Arief Geram Minta Pagar Beton Dibongkar

Arief Geram Minta Pagar Beton Dibongkar

HEBOH: TUTUP JALAN

TANGERANG | TR.CO.ID
Bangunan dinding beton dengan ketinggian 2 meter dan panjang 300 meter membuat keresahan masyarakat di Jalan Akasia RT 04/03, Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang.
Pasalnya, akibat dibangunnya tembok beton tersebut warga terpaksa harus memanjat dinding dengan manaiki tangga dan kursi, agar bisa melewati jalan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Mendapatkan laporan keresahan warga ini membuat geram orang nomor satu di Kota Tangerang. Walikota Tangerang Arief R Wismansyah langsung memerintahkan Satpol PP untuk segera membongkar dinding beton tersebut.


Menurut Arief, polemik sengketa tanah di Jalan Akasia RT 04/03, Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug yang berujung pembangunan tembok beton berdampak pada hilangnya akses jalan rumah warga.
Arief mengatakan, dirinya menginstruksikan jajaran Satpol PP Kota Tangerang untuk melakukan pembongkaran tembok beton yang telah dibangun, lantaran menyulitkan warga yang akan keluar dan masuk tempat tinggalnya.


"Sudah saya diinstruksikan ke Asda 1 dan Kasatpol PP untuk segera bongkar pagar betonnya," tegas Arief  kepada wartawan di Puspem Kota Tangerang, Senin (15/03).
Sementara itu, Asisten Tata Pemerintahan Kota Tangerang Ivan Yudhianto mengtakan, keputusan pembongkaran tembok ini diambil lantaran usaha mediasi yang beberapa kali dilakukan oleh Pemkot Tangerang dengan kedua belah pihak tidak menemui titik terang.
"Pihak yang mengaku memiliki tanah tidak hadir dan tidak bisa menunjukkan bukti kepemilikan lahan," kata Ivan.


Selain itu sambung Ivan, dari hasil peninjauan lapangan yang dilakukan oleh jajaran Pemkot bersama BPN Kota Tangerang didapati bahwa bidang tanah yang menjadi polemik telah tercatat sebagai jalan, bukan lagi milik individu.
"Pada sertifikat tanah sebagaimana disampaikan BPN bahwa tanah tersebut adalah jalan," tukasnya.
Terpisah, Camat Ciledug Syarifuddin mengatakan, dinding beton itu dibangun secara ilegal di atas jalan yang merupakan milik Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang.
Pemkot Tangerang telah memasang paving block di sepanjang jalan tersebut, dengan total lebar jalan 4,5 hingga 5 meter. Pembangunan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemkot Tangerang.


"Pemerintah menggunakan dana APBD di proses pembangunan jalan itu, ya kami anggap itu sudah punya pemerintah," terang Syarifuddin.
Menurut Syarifuddin, pihak yang membangun tembok di jalan tersebut belum bisa menunjukkan bukti kepemilikan atas tanah tersebut.
Akibatnya, pihak kecamatam Ciledug meminta Satpol PP Kota Tangerang untuk segera membongkar dinding tersebut.


Sementara Pelaksana tugas (PLT) Kepala BPN Kota Tangerang, Jodie mengatakan, terkait sengketa tanah tersebut diketahui telah bersertifikat dengan Nomor 64-65 tahun 1994. Artinya, pembelian dari lelang yang dilakukan pihak almarhum Munir sah miliknya.
"Tapi yang bermasalah itu terjadi di sebelah barat dari rumah tersebut. Dokumen yang ada di kami, batas-batasnya waktu permohonan haknya itu tertuliskan adalah sebelah barat berupa jalan. Sehingga nyata bahwa itu perbatasan bangunan itu berupa jalan. Sudah dari dulu diperuntukan untuk jalan. Jadi enggak ada tembok," tukas Jodie.


Diberitakan sebelumnya, tembok sepanjang 300 meter didirikan di depan bangunan yang berfungsi sebagai tempat fitness. Bangunan itu juga dihuni oleh satu keluarga.
Salah satu penghuni bangunan tersebut, Asep, mengatakan bahwa penutupan akses jalan ke rumahnya merupakan buntut dari sengketa yang tak kunjung usai sejak 2019.
Mulanya, ayah Asep yang bernama Munir (kini sudah meninggal) membeli bangunan itu pada proses lelang yang diadakan oleh sebuah bank di tahun 2016.


Bangunan yang dibeli merupakan gedung fitness seluas sekitar 1.000 meter persegi. Bangunan itu kemudian ditinggali keluarganya. Sebelum dilelang bank, bangunan tersebut merupakan milik seseorang. Ahli waris dari orang itu mengeklaim tanah di depan bangunan sebagai miliknya.


"Pada tahun 2019, salah satu ahli warisnya itu tiba-tiba mengaku kalau jalan di depan bangunan ini masih punya keluarga dia," ujar Asep ketika ditemui Jumat (13/3/2021) malam.


Asep menyebutkan, ahli waris tersebut mengakui jalan selebar 2,5 meter di depan rumah Asep merupakan hibah dari keluarganya kepada pemerintah.
Oleh karenanya, si ahli waris membangun dua dinding sepanjang kurang lebih 300 di jalan di depan bangunan tersebut. Ketinggian dinding sekitar 2 meter.


Saat dinding itu dibangun, masih ada akses masuk rumah dan gedung fitness dengan lebar sekitar 2,5 meter.
"Saat itu, kami masih dikasih akses masuk, cuma bisa (untuk) satu motor kira-kira," ungkap Asep.
Pemilik gedung diancam dengan golok Banjir yang terjadi pada bulan Februari kemarin menjebol salah satu dinding. Lebar dinding yang jebol kurang lebih 3 meter.
"Dia (ahli waris) mikirnya kalau ibu saya yang ngehancurin dinding itu, padahal itu kan karena banjir," ujar Asep.


Sang ahli waris pemilik lama bangunan tidak percaya, kemudian mendatangi rumah Asep serta mengancam ibu Asep dengan membawa golok. Si ahli waris kemudian memaksa menutup total akses satu-satunya yang dimiliki keluarga Asep.
"Ibu saya sampai sekarang masih trauma karena dikalungin golok. Sekarang cuma bisa diam aja kalo keinget itu," sebut dia.
Karena akses keluar masuk rumah ditutup total, Asep dan keluarganya harus naik turun tangga dan kursi untuk memanjat dinding tembok tersebut.


Asep menambahkan, keluarganya lantas melaporkan ancaman tersebut kepada aparat kepolisian. Asep berharap permasalahan yang dihadapi keluarganya dapat segera selesai.
"Kami ya ingin lega lah jalannya, masak ditutupin begini," ungkapnya.


Pernyataan sang ahli waris Pendiri dinding beton tersebut, Asrul Burhan (Ruli), mengatakan bahwa dinding itu ia bangun di atas tanah milik ayahnya, Anas Burhan (kini telah meninggal).
Ia masih memegang akta jual beli (AJB) tanah tersebut.
Oleh karena itu, Ruli lantas mendirikan tembok di sana pada tahun 2019, dengan menyisakan sedikit jalan untuk keluarga yang tinggal di belakang tembok.


Ruli menutup total akses ke bangunan di belakang tembok karena, menurut dia, keluarga yang menempati bangunan tersebut sengaja merobohkan sebagian dinding yang ia bangun. Ruli tidak menerima alasan keluarga tersebut yang mengatakan bahwa tembok roboh karena banjir.
"Posisi (sebagian dinding) robohnya ke depan, sementara air (menerjang) dari depan, masa robohnya ke depan," pungakasnya. (cng/jojo)