Belajar Daring Bisa Timbulkan Beban Psikologis ?

Belajar Daring Bisa Timbulkan Beban Psikologis ?

LEBAK | TRM

Metoda pembelajaran interaktif berbasis internet atau Daring. Digelar pemerintah khusus di era pandemi covid 19 saat ini, berdampak psikologis bagi siswa Kelas 1 Sekolah Dasar (SD). Sejumlah kendala sistem pebelajaran Daring bagi siswa Kelas 1 SD, dimana siswa  kelas 1 rata-rata belum fasih baca tulis, merangkai kata dan menulis kalimat. Sehingga, siswa masih membutuhkan intensitas bimbingan guru secara dekat, bukan dengan metoda pembelajaran jarak jauh seperti di era pandemi saat ini.

Dituturkan Aceng Sanwani, Kepala Sekolah SDN 02 Muncang Kopong Kecamatan Cikulur, dalam perbincangannya selama beberapa menit dengan awak, bahwa ekses Daring bagi siswa Kelas 1, diantaranya siswa akan mengalami penurunan spirit belajar. Hal itu, karena kerapnya tugas sekolah harus diselesaikan, oleh siswa dibawah bimbingan orang tuanya, dengan ragam latar belakang edukasi, serta pengetahuan orang tua siswa itu sendiri.

"Bagi anak Kelas 1, jangankan merangkat kalima dan membaca dengan lancar. Memegang bol point saja siswa masih harus dibimbing guru karena kerap salah. Tak bisa dibayangkan, jika banyaknya tugas sekolah saat Daring, ini akan begitu menekan psikologis siswa, yang tidak menutup kemungkinan, ini juga beban psikologis tersendiri bagi orang tua siswa," katanya kepada Harian Tangerang Raya, Minggu (15/11)

Menurutnya, nyaris 1 tahun  belajar secara Daring di Gelar, terkadang ada kerinduan dengan sistem pembelajaran, bertatap muka langsung dalam suatu ruang kelas dengan para siswa didik.

"Jujur sebagai manusia, yang mungkin perasaan seperti ini, juga dirasakan dewan guru. Kami rindu dengan metoda KBM  bertatap muka langsung dengan siswa diruang kelas. Soal Daring, seperti hari-hari lainnya, hari ini pun saya bersama dewan guru, baru usai evaluasi  hasil Daring pak," ujar Aceng.

Selain itu, latar belakang ekonomi siswa Kelas 1, semisal orang tua siswa tidak mampu membeli hand phone, karena hanya sekedar kuli serabutan atau korban Pemutusan Hubunga  Kerja (PHK) sebuah perusahaan. Alhasil, adanya bantuan kuota dari pemerintah, lagi terbentur dengan ketiadaan fasilitas hand phone.

"Jadi setiap hari kami bersama dewan guru harus terus meutar otak, mencari solusi dan jawaban. Sehingga dengan adanya Daring, siswa Kelas 1 SD benar-benar terselamatkan, baik kelangsungan pendidikan maupun spirit belajarnya. Ya paling tidak, secara psikologis mereka tidak down lah," terangnya.

Untuk diketahui, belajar daring adalah metode belajar yang menggunakan model interaktif berbasis internet dan Learning Manajemen System (LMS), yang digelar disemua jenjang pendidikan, pasca pandemi covid 19. Hal itu, sebagai upaya untuk menghindari munculnya kluster penularan baru pada siswa sekolah, sebagai efek adanya kerumunan saat belajar tatap muka disekolah. (yans/zal/dam)