Penggali Kubur Covid-19 Demo

Penggali Kubur Covid-19 Demo

Jasa Belum Dibayar

 


TANGSEL | TR.CO.ID
Belum dibayar dari jasa menggali kuburan pasien Covid-19, para penggali kubur menggelar aksi unjuk rasa tepat di depan gerbang Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Senin (25/01).
Dalam aksi unjuk rasa tersebut, mereka turut membawa sejumlah atribut dengan bertuliskan sejumlah tuntutan. Salah satu tuntutannya, bertuliskan "Kami tim gali TPU Jombang. Menolak memakamkam sebelum hak kami terpenuhi".


Hasil pantauan wartawan di lokasi sekitar pukul 17.30 WIB, aktivitas aksi unjuk rasa sudah tak terlihat. Para penggali dikumpulkan dalam suatu ruangan, untuk diberikan penjelasan oleh pihak pengelola TPU, Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahanan (Perkimta) Kota Tangsel, beserta unsur TNI.


Usai pertemuan dilakukan, mulai terlihat sejumlah penggali yang mengikuti unjuk rasa, pergi meninggalkan area pemakaman, dengan raut wajah kecewa tanpa berkomentar lebih lanjut.


"Enggak dapat bayaran, mending pulang saja," ujar salah satu penggali sembari meninggalkan area pemakaman.
Sementara itu, Kepala Seksi Pemakaman Disperkimta, Tangsel Nazmudin menyebut bahwa aksi protes tersebut hanyalah kesalahpahaman terkait perubahan sistem pembayaran upah, yang semula harian. Kini menjadi mingguan.


"Ya jadi ini awalnya dibayar oleh pengelola tukang gali itu setiap hari, misalnya  ada lima dibayar lima. Nah untuk hari ini rencananya kita bayar perminggu. Jadi demo itu karena ada perubahan dibuat sistem dari harian bayarannya menjadi setiap minggu," ujar Nazmudin di lokasi.


Ia memastikan bahwa upah para  penggali pasti akan tetap dibayarkan.


"Dianggarkannya Rp1 juta untuk satu lubang. Satu lubang biasanya lima orang. Jumlah keseluruhan ada 10 orang yang aktif kemudian yang tadi (demo) itu yang kebetulan mempunyai jadwal galian hari ini. Mereka belum dibayar, jadi mereka unjuk rasa," terangnya.


Saat ini, kata Nazmudin, seluruh penggali pun sudah diberi pengertian atas perubahan sistem pembayaran upah tersebut. Ia menyebut bahwa seluruhnya kini telah menerima keputusan itu.


Kendati demikian, Nazmudin mengaku bila keterlambatan upah para penggali itu ditengarai belum diterimanya dana tersebut dari Pemerintah Kota Tangsel.


Menurutnya, pihaknya saat ini telah mengajukan sejumlah biaya tersebut namun belum mendapat respon dari Pemkot Tangsel.
"Sambil menunggu dana BTT (Biaya tak terduga) nya turun. Ini dana talangan nih yang kita bayarkan kepada mereka tiap minggu ini. Kalau dana sudah turun mah mau dibayarkan tiap hari atau minggu juga tidak ada masalah," jelasnya.(*/jojo)