Proyek Turap Lereng Diprotes Petani

Proyek Turap Lereng Diprotes Petani

LEBAK | TRM

Pelaksanaan proyek pembangunan, hendaknya diselaraskan dengan prioritas kebutuhan masyarakat.  Namun  lain halnya dengan proyek pembangunan lereng terjal di akiran sungai Ciujung, Desa Malabar, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak.

Proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Lebak itu, senilai 500 juta Tahun Anggaran 2020 Justeru dikeluhkan petani setempat, karena lokasi usulan awal dengan lokasi pelaksanaan tidak sama.

Dituturkan Anang, seorang petani di Desa Malabar Kecamatan Cibadak, yang mengaku heran dengan pelaksanaan proyek tersebut. Sebab pada usulan awal, petani berharap tebing longsor di area bendung Cilimus yang dibangun, bukan di area bendung Cininjan.

"Pada usulan awal, melalui pak Kepala Desa tebing Cilimus yang kami usulkan. Sebab disana terjadi longsor yang terbilang parah, tapi saat pelaksanaannya pihak rekanan malah melakukan penurapan di area bendung Ciminjan. Kami rasa tebing di area bendung Ciminjan cukup aman, kalaupun tidak dilakukan penurapan," katanya, Sabtu (29/11) dilokasi bendung Ciminjan.

Menurutnya, pada saat pelaksanaannya pihak rekanan juga cenderung tertutup dengan para petani, khususnya pemilik lahan di sekitar area bendungan. Sehingga, para petani tidak tahu, jika usulan penurapan tebing di area bendung Cikinus telah dialihkan ke area bendung Ciminjan.

Dari keterangan petani lain, imbuh Anang, proyek penurapan di area bendung Ciminjan tersebut, dinulai setelah rehabilitasi jembatan Ciminjan oleh TNI. Herannya lagi, tidak ada tanda-tanda kalau priyek 500 juta tersebut nenggunakan papan infornasi.

"Kata petani lain sih, pekerjaannya dimulai setelah rehab jenbatan Ciminjan yang ambrol oleh TNI. Tapi saat kami cari dimana papan infornasi proyeknya, justeru sama sekali tidak kami temukan," tuturnya.

Meresfon hal itu, Enden Mahyudin, Anggota DPRD Lebak, berharap agar skala prioritas penbangunan, hendaknya tidak mengabaikan aspirasi atau usulan masyarakat. Sehingga, kelak masyarakat akan merasa memiliki jika penjabaran pembangunan tersebut, adalah berangkat dari kebutuhan yang diusulkan mereka.

"Nah, kalau yang diusulkan masyarakat lokasinya A. Kenudian dibangun di area B, bagaimana bisa itu diterima masyarakat. Terlebih itu proyek terkait kebutuhan petani, jelas ini sangat sensitif pada akhirnya," terangnya. (yans/zal/dam)