Seminar on Sustainable Economy 

Seminar on Sustainable Economy 

SERANG | TR.CO.ID

“Encouraging investment on Green Industry and implementation of Local Currency Settlement (LCS) for Sustainable Economic Growth”  Kolaborasi Bank Indonesia Banten dan ISEI Provinsi Banten

Serang, 27 juni 2022. Yang terhormat Pejabat Gubernur Provinsi Banten, Dr. Al Muktabar, M.Sc. Ratih Purbasari Kania, S.KM., M.A., M.S.E selaku Direktur Perencanaan Sumber Daya Alam (SDA) Kementerian Investasi/BKPM.

Fajar Budiono selaku Sekretaris Jendral INAPLAS sekaligus narasumber. Dr. Akhmadi selaku Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Sultan Ageng  Tirtayasa.

H.E.R Taufik, Ph.D selaku Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Banten. Tomi Aryanto selaku Sekretariat Korporat PT Tempo Inti Media TBK sekaligus Pengurus ISEI 

Pusat. Eko Setyo Nugroho selaku Pemimpin Wilayah BNI Wilayah 14 Provinsi Banten. Romi Peranginangin selaku Deputi Direktur Bank Indonesia sekaligus narasumber. Bapak/Ibu Perwakilan dari Bappeda, Disperindag se-Provinsi Banten
,Bapak/Ibu Anggota ISEI Cabang Banten
,Bapak/Ibu Akademisi perwakilan universitas se-Provinsi Banten
,Bapak/Ibu perwakilan Perbankan se-Provinsi Banten
,Bapak/Ibu perwakilan Media se-Provinsi Banten.

Seminar yang merupakan sinergi antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Pemerintah Provinsi Banten dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Provinsi Banten dapat terlaksana. 

Kami mengangkat tema “Accelerating investment on Green Industry and implementation of Local Currency Settlement (LCS) for Sustainable Economic Growth”. Seminar ini diselenggarakan dalam rangka mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) serta side event presidensi Indonesia di G20.

Selain itu kami mengharapkan seminar ini sebagai salah satu upaya membangkitkan perekonomian hijau di Provinsi Banten dan Nasional. Perekonomian global terus diwarnai dengan meningkatnya inflasi di tengah pertumbuhan yang 
diprakirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.

Berlanjutnya ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina, yang disertai dengan pengenaan sanksi yang lebih luas dan kebijakan zero Covid-19 di Tiongkok, menahan perbaikan gangguan rantai pasokan. Gangguan suplai tersebut disertai dengan meluasnya kebijakan proteksionisme terutama pangan oleh berbagai negara, mendorong tingginya harga komoditas global yang berdampak pada peningkatan tekanan inflasi global. 

Kebijakan proteksionisme pangan bertujuan untuk mengamankan pasokan dalam negeri (food security), di tengah pasokan pangan global yang ketat. Sementara itu, perekonomian nasional diprakirakan terus melanjutkan perbaikan seiring dengan peningkatan permintaan domestik di tengah tetap positifnya kinerja ekspor. Perkembangan tersebut 
tercermin dari berbagai indikator dini pada Mei 2022, yang menunjukkan berlanjutnya perbaikan.

Permintaan domestik seperti keyakinan konsumen, penjualan eceran, dan ekspansi PMI Manufaktur, 
seiring peningkatan mobilitas & pembiayaan dari perbankan, Kinerja ekspor, dan kinerja beberapa 
sektor Utama: Industri Pengolahan, Perdagangan, dan Konstruksi yang terus membaik.
 
Ketahanan sistem keuangan tetap terjaga dan intermediasi perbankan melanjutkan perbaikan secara 
bertahap. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 9,93% (yoy), sementara intermediasi perbankan 
pada Mei 2022 melanjutkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya dengan pertumbuhan kredit
9,03% (yoy). Pertumbuhan kredit terjadi di seluruh kelompok bank dan hampir di seluruh sektor 
ekonomi.

Terutama pada segmen kredit Korporasi dan UMKM, seiring berlanjutnya pemulihan aktivitas korporasi dan rumah tangga. Dari sisi penawaran, standar penyaluran kredit perbankan tetap longgar, terutama di sektor 
Perdagangan, Industri, dan Pertanian seiring membaiknya persepsi risiko kredit.

Dari sisi permintaan, pemulihan kinerja korporasi terus berlanjut, tercermin dari perbaikan penjualan yang selanjutnya 
meningkatkan permintaan pendanaan perbankan, kemampuan membayar, dan belanja modal korporasi.

Melihat kondisi perekonomian global dan nasional, Bank Indonesia terus menempuh berbagai langkah penguatan bauran kebijakan dengan tetap mempertahankan BI 7 Days Repo Rate pada level 3,5%, suku Bunga Deposit Facility 2,75%, dan Suku Bunga Lending Facility 4,25%.

Keputusan ini sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendukung pertumbuhan ekonomi, di tengah naiknya tekanan eksternal terkait dengan meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara. Ke depan, ketidakpastian ekonomi global diprakirakan masih akan tinggi seiring dengan makin mengemukanya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi global, termasuk sebagai akibat dari makin meluasnya 
kebijakan proteksionisme terutama pangan, yang ditempuh oleh berbagai negara.

Mencermati hal itu, maka BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2022 dalam kisaran 4,5-5,3%. (hed/dam)