Ali Ridho Ingatkan 4 Pilar Kebangsaan Sosialisasi Sasar IKPM

Ali Ridho Ingatkan 4 Pilar Kebangsaan Sosialisasi Sasar IKPM
Anggota DPD RI Dapil Banten, TB M Ali Ridho Azhari (Kanan)

TANGSEL | TR.CO.ID

Anggota DPD RI Dapil Banten, TB M Ali Ridho Azhari terus mengingatkan pentingnya 4 Pilar Kebangsaan, yaitu, Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI, dengan melakukan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan. Kali ini edukasi tersebut ditujukan kepada para pelajar Mahasiswa dari Ikatan Alumni Keluarga Pondok Pesantren Gontor (IKPM).

Kegiatan pelaksanaan yang di lakukan di cafe Selasar Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Jum'at (29/7/22) itu berlangsung khidmat, yang di buka langsung oleh ketua IKPM Adinda Abid sapaan akarbnya. Abid juga mengapresiasi kesediaan Sentor asal banten itu yang menyempatkan waktu untuk memberikan edukasi terkait hal tersebut.

"Terima kasih banyak Pak Ali Ridho, sudah berkenan hadir dan siap Sosialisasi 4 Pilar kebangsaan," ungkapnya.

Pada kegiatan itu Anggota MPR RI Ali Ridho menyampaikan sosialisasi 4 pilar. Kata Ali Ridho, hal ini sebagai bentuk untuk mengingatkan tantang apa saja pilar-pilar kebangsaan.

"Sosialisasi 4 pilar ini mencakup Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI, melalui kegiatan ini agar kita sebagai penerus bangsa untuk mengetahui bagai mana perbedaan ini jangan sampai jadi perpecahan tetapi perbedaan merupakan unsur penguatan kita sebagai bangsa Indonesia," beber AA Ridho sapaan akrabnya.

Kata dia, kita harus ingat sejarah 4 pilar untuk merekatkan bangsa Indonesia agar tidak terpecah belah, karena sejarah Indonesia para pahlawan hampir mayoritas dari kalangan santri.

“Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan ini sejarahnya dari awal, kita bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan yang penuh keanekaragaman, suku bangsa, adat budaya, agama maupun bahasa daerah. Meskipun kayak akan keanekaragaman namun tetap satu kesatuan Indonesia sesuai semboyan Bhineka Tunggal Ika,” terang AA Ridho Anggota DPD RI yang juga selaku Anggota MPR RI Dapil Banten ini.

Menurutnya, Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan yang tertera dalam lambang negara Indonesia, Pancasila. Bhinneka Tunggal Ika ini disebut sebagai ikrar pemersatu bangsa yang menggetarkan jiwa.

“Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa yang harus dijunjung tinggi kedudukannya. Mengapa 4 pilar kebangsaan ini harus kita teruskan, yaitu untuk menjaga bangsa Indonesia tetap satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, kalaupun berbeda – beda tetapi satu jua,” papar Sosok senator santri ini.

Perbedaan bukan alasan untuk saling memecah belah ikatan persaudaraan. Seperti halnya, pada zaman kerajaan yang berperang karena perbedaan agama, ataupun budaya dan bahasa.

“Namun setelah Indonesia Merdeka, Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari beliau sungguh luar biasa memutuskan bahwa Negara Republik Indonesia, berdasarkan pancasila yaitu tidak memaksakan dengan agama lainnya. Itu sudah ditanamkan semenjak dahulu bahwa ideologi Negara Republik Indonesia adalah Pancasila,” imbuhnya.

Ali Ridho mengungkapkan, Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, dari Sabang sampai Merauke berbagai macam suku bangsa, budaya, agama, bahasa.

“Namun syukur alhamdulilah kalaupun majemuk tetapi masih dalam satu kesatuan NKRI. Mungkin bisa kita lihat di negara-negara Eropa, walaupun mereka satu bangsa tapi mereka tidak bisa bersatu, mereka terpecah belah menjadi beberapa puluh negara karena terjadi perang sodara,” tuturnya.

Berikutnya, juga di Timur Tengah, sama ada banyak negara berdiri sendiri karena terjadi peperangan sodara.

“Indonesia Alhamdulilah sampai saat ini masih bersatu dalam bingkai NKRI. Dan melalui sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan ini, kita mempersatukan dari Sabang sampai Merauke, kalau tidak ada ini sangat berbahaya bisa memecah belah kesatuan NKRI,” katanya.

Oleh karenanya, 4 Pilar Kebangsaan harus ditanamkan kepada seluruh anak bangsa. Khususnya kepada generasi penerus bangsa agar memiliki pondasi kuat tidak mudah terprovokasi dan mudah terhasut ajakan yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI.

“4 Pilar Kebangsaan ini harus kita tanamkan bahwa Indonesia ada 6 agama dan tidak bisa memaksakan kehendak dari 6 agama yang ada. Kita harus mengayomi dan mengasihi sesama anak bangsa,” demikian AA Ridho. (rdw/dam)