Diganjar Award, Dua Tokoh Dipertanyakan Kiprahnya Terhadap Guru Honorer

Diganjar Award, Dua Tokoh Dipertanyakan Kiprahnya Terhadap Guru Honorer

KOTA TANGERANG | TR.CO.ID

Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2022 yang diperingati setiap tanggal 2 Mei kemarin, Forum Silaturahmi Guru Honorer Kota Tangerang memberikan penghargaan (Award) kepada dua orang tokoh Kota Tangerang yang dinilai turut memperjuangkan nasib para guru honorer.

Pemberian Award ini memantik pertanyaan besar dari elemen masyarakat, salah satunya oleh sahabat guru honorer dan swasta, Mulyadi LM.

Mereka mempertanyakan atas dasar apa kedua tokoh itu diganjar penghargaan. Mereka menilai Award ini tidak relevan mengingat saat ini para guru honorer masih sangat memprihatinkan. Bahkan masih terus berjuang dengan tertatih dan minim perhatian pihak luar.

"Alhamdulillah, seneng juga ada kabar Ketua ICMI dapat penghargaan dari forum guru honorer. Bersamaan dengan Hardiknas 2022. Cuma pertanyaanya apa yang sudah diperjuangkan tokoh tersebut secara maksimal kepada guru honorer dan guru swasta sampai dapat penghargaan?," kata Mulyadi dalam keterangannya, Kemarin.

Tambah dia, masa iya hanya dengan memberikan pelatihan (ujian seleksi PPPK dan Try Out) terhadap para guru honorer dan swasta tokoh tersebut sampai diganjar penghargaan (Award).

"Bisa jadi ada yang salah dalam persepsi penilaian jika dinilai secara benar, tapi... entahlah?" pikir dia.

Sesungguhnya kebutuhan guru honorer dan swasta bukan sekedar mendapatkan pelatihan, akan tetapi lebih jauh dan yang selalu menjadi harapan mereka adalah bahwa mereka ingin mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif agar nasibnya bisa berubah, dan tidak dipandang sebelah mata seperti sekarang ini, menurut dia.

"Selama ini guru honorer dan swasta banyak yang sedih dan prihatin, cuma mereka berjiwa besar, sambil terus berjuang dan bersabar," tutur encing Mulyadi, sapaan akrabnya.

Adapun salah satu yang menjadi keprihatinan guru honorer selama ini adalah, sering telatnya honor yang diterima dan selama itu berlangsung tidak ada yang peduli memperjuangkanya, baik eksekutif/legislatif kecuali mereka berjuang dengan kekuatannya sendiri-sendiri, sambung dia.

"Anehnya disaat Hardiknas ini ada tokoh yang mendadak mendapat penghargaan, padahal kiprah dan perjuanganya di level guru honorer dan swasta nihil, ini menjadi anomali dan perlu dipertanyakan. Apa dasarnya dapat Award itu," tanya dia keheranan.

Buktinya waktu guru honorer dan guru swasta dihapus insentifnya oleh Wali Kota Tangerang pada tahun 2017 yang lalu, tak satu pun yang peduli dan belain mereka, lanjutnya.

"Jangankan dua, satu tokoh pun gak ada yang belain," ketusnya sembari mencantumkan emoticon sedih menangis.

Selanjutnya, sambung dia lagi, saat guru honorer dan swasta menjadi tanggung jawab Provinsi juga tidak ada tokoh dan atau anggota legislatif dan eksekutif yang peduli memperjuangkan dan membela nasib para guru honorer, agar mereka bisa mendapatkan insentif dari Provinsi.

"Bisa jadi Gubernur juga lupa, tapi beberapa kali saya sampaikan agar nasib guru swasta diperhatikan agar Pak Gubernur bisa memberikan insentif tapi diem aja. Sampai akhirnya guru swasta bersatu di dalam Rumah Besar Guru swasta, baru di apresiasi oleh Komisi V," imbuhnya.

Dia berkata, menjadi rahasia umum bahwa guru swasta berjuang sendiri sejak Wahidin Halim (WH) menjadi Gubernur Banten sejak tahun 2017. Karena WH lupa dengan janji kampanyenya akan memperhatikan nasib guru.

"Benar sih diperhatikan, tapi yang diperhatikan oleh Gubernur cuma nasib guru PNS/ASN, nasib guru Honorer dan swasta gak masuk itungan," kata dia.

Akhirnya dari perjuangan panjang sejak tahun 2017 baru pada tahun 2021 perjuangan guru swasta berhasil mendapat insentif dengan persyaratan yang cukup banyak sampai 15 item. Itu pun masih belum semuanya bisa mendapatkan insentif dengan berbagai alasan.

Padahal kalau Gubernur atau anak buahnya (Kadindikbud) bijak dan cintanya tulus dengan semua guru tanpa pilih kasih, tidak perlu menunggu guru swasta bergerak, berjuang dan aksi demo sekedar minta satu item yakni insentif, dari kurang lebih 11 item yang didapat oleh guru PNS/ASN.

Pastinya itu sangat mudah bila Gubernur atau Dindik mau berbuat baik untuk guru swasta. Yang menyedihkan malah Bosda untuk sekolah swasta pada tahun 2021 hilang dengan alasan yang sesungguhnya ada pada Dindik.

"Artinya selama ini baik guru honorer dan swasta mereka rata-rata berjuang dengan pikiran, tenaga dan kemampuanya sendiri-sendiri, agar nasibnya bisa berubah menjadi lebih baik. Sekalipun tidak sebaik nasib para guru PNS/ASN," ia berujar.

"Semoga nasib 'Umar Bakri' yang non PNS/ASN ada yang peduli memperjuangkanya sampai mereka bisa tersenyum indah menatap masa depan anak-anak bangsa yang insya Allah bisa menjadi harapan bangsa, negara dan agama," tuturnya.

Akhirnya jika ada Award yang diberikan oleh forum guru honorer atau organisasi apapun kepada salah seorang tokoh atau lebih, hendaknya harus jelas sudah sejauh mana perjuanganya.

"Bila perlu diurai poin-poin yang telah diperjuangankanya selama ini. Jangan sampai hanya sekedar mengadakan pelatihan yang segitu kemudian diganjar Award atau ada yang mengusulkan agar tokoh itu diberikan penghargaan, jika demikian sungguh sangat memprihatinkan," ujarnya.

Menurut dia, sesungguhnya para guru honorer dan swasta itu bukan hanya butuh pelatihan atau seminar saja, apalagi jika didalamnya ada kemasan unsur politik praktis, maka sangat memalukan.

"Jadi kalau ada tokoh yang mau memperjuangkan nasib mereka, pasti siapapun akan senang asal perjuangannya sungguh-sungguh dan ikhlas. Bukan basa-basi apalagi sekedar lip servis atau sekedar pencitraan. Kemudian dengan cara itu ada upaya untuk memberikan penghargaan, sungguh sangat memprihatinkan," beber dia.

"Sekali lagi, siapapun tidak berkeberatan dan bahkan sangat mendukung jika ada tokoh yang diberikan penghargaan dari guru honorer atau swasta asal jelas perjuangannya dan telah berhasil mengangkat marwah dan nasib mereka. Selamat Hardiknas, semoga hari hari kedepan menjadi hari indah untuk para guru honorer dan swasta," demikian Encing Mulyadi.

Diberitakan sebelumnya, Forum Silaturahmi Guru Honorer Kota Tangerang pada peringatan Hardiknas Tahun 2022 ini memberikan Award kepada dua tokoh, yakni Jazuli Abdillah Anggota DPRD Provinsi Banten, dan Eni Handayani seorang guru honorer berprestasi sekaligus instruktur profesional yang baru diangkat menjadi ASN P3K.

Dalam siaran pers yang diterima Jumat (06/05) kemarin, oleh forum itu kedua tokoh tersebut dinilai aktif berjuang dan mendampingi tenaga honorer (guru) dalam memperjuangkan status dan kesejahteraan sampai sekarang.

Dua tokoh itu juga dinilai berjasa serta memiliki dedikasi tinggi dalam membela dan memperjuangkan nasib, baik status maupun kesejahteraan guru honorer. Terutama di Kota Tangerang dan Provinsi Banten.

"Atas dasar inilah kami memberikan penghargaan (Award) dan mengapresiasi keduanya di moment Hardiknas ini atas kiprah dan dedikasinya terhadap guru honorer," kata Ketua Forum Silaturrahmi Guru Honorer Kota Tangerang, Umar Wirahadi Kusuma. (fj/dam)