Mahasiswa Akuntansi Indonesia Harus Mampu Bersaing

Mahasiswa Akuntansi Indonesia Harus Mampu Bersaing
Desi Kurniawati, S.E., M.M Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang

PAMULANG | TR.CO.ID

Akuntan menjadi salah satu profesi yang dinilai akan terdampak era disrupsi ekonomi dan society 5.0.Pasalnya, perkembangan teknologi yang telah memasuki revolusi industri 4.0 membuat pekerjaan manusia dapat diambil alih oleh teknologi, "tutur Desi Kurniawati, S.E., M.M Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang (Rabu 29/12)

Desi Kurniawati mengatakan, Untuk menyusun laporan keuangan misalnya, dari yang tadinya harus diselesaikan oleh beberapa orang akuntan, saat ini hanya perlu dilaksanakan oleh segelintir akuntan saja. 

"Semua database tentang transaksi keuangan telah mampu diolah dan ditelusuri secara otomatis melalui teknologi," kata wanita berhijab itu.

Alhasil lanjut Desi, sebagian peneliti memprediksikan bahwa profesi akuntan akan tereduksi secara cukup masif. Pada titik ini, para akuntan dinilai harus mampu bersaing secara global.

"Jika ditinjau dari beberapa kurikulum perguruan tinggi program studi Akuntansi, kebanyakan visinya belum mengarah pada kemampuan bersaing secara global, "papar nya.

Persoalannya, tidak sedikit perguruan tinggi yang memiliki sumber daya yang memadai untuk mendukung visi tersebut. 

"Terbukti, skill sarjana akuntansi dinilai kurang memadai untuk bersaing, sehingga perlu  mendapatkan kembali beragam proses pendidikan profesi," ujar nya

Dalam konteks ini, perguruan tinggi perlu secara terus menerus melakukan pemutakhiran kurikulumnya. Namun tentu saja, pemutakhiran tersebut perlu dilakukan dengan teliti dan tetap berhati-hati. Karena, jika mengalami perubahan yang terlalu cepat, maka justru profil dan capaian lulusan relatif sulit tercapai.

"Apabila dilihat dari potensinya, mahasiswa jurusan akuntansi Indonesia merupakan yang paling besar kuantitasnya di kalangan negara-negara Asia Tenggara.
Potensi tersebut apabila tidak didistribusikan menjadi sumber daya manusia berdaya saing global, tentu dapat menjadi beban tersendiri, "imbuh nya.

Menurut Desi, banyaknya supply sumber daya manusia dengan kompetensi akuntansi ini juga harus diimbangi dengan demand yang memadai. 

"Sisi demand inilah yang relatif terdampak besar oleh adanya disrupsi teknologi. Perkembangan teknologi serta menjamurnya beragam aplikasi akuntansi yang mudah dioperasikan membuat siapapun (tanpa memiliki kompetensi akuntansi yang memadai) dapat melakukan tugas-tugas yang seharusnya ditangani oleh seorang akuntan, 
"terang nya 

Hingga saat ini sambung Desi,  kebanyakan program studi akuntansi yang mengusung tema utama sumber daya manusia berdaya saing global baru di perguruan tinggi-perguruan tinggi negeri. Padahal, proporsi mahasiswa akuntansi yang berada di perguruan tinggi swasta jauh lebih besar jumlahnya. 

"Berdasarkan hal ini, perguruan tinggi swasta juga perlu memaksimalkan perannya dalam mencetak mahasiswa-mahasiswa akuntansi yang berdaya saing tinggi Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjamin kepemilikan daya saing bagi mahasiswa akuntansi adalah dengan sertifikasi kompetensi, "tukas Desi 

Ia juga menerangkan, sertifikasi kompetensi yang dapat diikuti mengacu dan diatur oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Meskipun sertifikasi kompetensi dari BNSP ini juga masih memiliki banyak kekurangan, namun setidaknya dapat memberikan pengakuan standar atas kepemilikan kompetensi mahasiswa akuntansi.

"Kelemahan utama sertifikasi profesi berbasis BNSP ini adalah terdapat beberapa unit kompetensi yang belum sesuai dengan standar internasional yang paling mutakhir. Hal ini, karena acuan digunakan adalah standar kompetensi kerja nasional, "ungkap nya 

Indonesia tahun 2013. Padahal, sudah banyak skill-skill baru dalam bidang akuntansi yang berkembang di dunia. Hal ini utamanya adalah karena perkembangan bisnis serta transaksi bisnis di dunia berkembang sangat cepat.

"Perubahan dalam konsep serta transaksi bisnis tersebut mau tidak mau akan berimbas pada perlakuan akuntansinya. Dalam konteks ini, peran perguruan tinggi sangat vital dalam mengenalkan kompetensi-kompetensi baru tersebut, "tandas nya. (Man/Fuad)