Mahasiswa Gruduk DPUPR Kecewa Program Jakamantul

Mahasiswa Gruduk DPUPR Kecewa Program Jakamantul

PANDEGLANG | TR.CO.ID

Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Pandeglang menggruduk di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pandeglang dengan melakukan aksi unjuk rasa. Hal itu lantaran para mahasiswa kecewa terhadap program Jalan Kabupaten Mantap Betul (Jakamantul) yang diduga syarat kepentingan.

Sadin Maulana Ketua Umum PC IMM Kabupaten Pandeglang mengatakan bahwa Program Jakamantul sangat sarat akan kepentingan sekelompok orang, mereka meminta agar DPUPR bersih dalam praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). 

"Banyak pengerjaan ruas jalan kabupaten yang di bangun oleh Pemerintah Daerah (Pemda) akan tetapi nampak tak sesuai dengan ketentuan spesifikasi Bina Marga tahun 2018, kami meminta DPUPR agar memaksimalkan fungsi pengawasannya, jangan ada main mata  dengan kontraktor dan panitia lelang dibalik layar dengan para pengusaha," tegas Sadin Kepada Wartawan.

Selain itu, Sadin juga meminta agar setiap pengadaan barang dan jasa yang ada di kabupaten Pandeglang, khususnya di DPUPR sesuai aturan.

"Kami meminta pengadaan barang dan jasa di DPUPR sesuai mekanisme, dengan aturan Perpres No 12 Tahun 2021 Tentang Pengadaan Barang/jasa," bebernya.

Sementara itu, Fakhruddin Kordinator Lapangan dalam Orasinya juga mendesak DPUPR untuk mem Blacklist Perusahan Nakal.

"Kami mendesak secara tegas DPUPR  Pandeglang untuk melakukan Blacklist perusahaan nakal, karena di Program Jakamuntul ini ternyata banyak ruas jalan yang dibangun tidak sesuai spesifikasi Bina Marga 2018," katanya.

Menurut Fakhruddin, DPUPR kurang dalam melakukan melakukan pengawasan terhadap pekerjaan yang tengah dilaksanakan.

Kata dia, Hal itu terbukti dalam pembangunan ruas jalan Pasir Nangka - Cikadu di Kecamatan Cibitung, dimana terdapat kerusakan disebabkan karena pondasi yang kurang baik, sehingga tidak kuat menahan beban diatasnya.

"DPUPR  sangat lemah akan pengawasan terhadap pengerjaan ruas jalan yang tengah banyak dilaksanakan, itu terbukti dari berbagai pengerjaan jalan yang mudah rusak.akibat adanya dugaan setoran, sehingga di balik dugaan adanya setoran ini para kontraktor tidak lagi berpikir kualitas  fisik melainkan bagai mana  caranya uang. yang di duga  bekas setoran kembali dan  memikirkan  keuntungan  tanpa memikirkan  kualitas fisik ke depan nya," tukas Fakhruddin.

Sayangnya hingga berita ini di lansir Dinas terkait belum dapat dikonfirmasi. (yan/jat/dam)