Mangrove Desa Muara Dulunya Tidak Produktif Kini Tempat Harapan

Mangrove Desa Muara Dulunya Tidak Produktif Kini Tempat Harapan
Budi Usman Penggiat Konservasi didampingi H. Yatno Ketua LMDH Mina Muara Berdikari, mengelilingi kawasan Hutan Mangrove Desa Muara, Kecamatan Teluknaga.

TANGERANG | TR.CO.ID

Eksistensi wisata edukatif dan rekreatif hutan mangrove yang terletak di Desa Muara, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang yang dulunya tidak produktif kini menjadi tempat harapan bagi para nelayan dan warga sekitar untuk bertaruh hidup, hal itu setelah dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Mina Muara Berdikari, Desa Muara. Demikian dikatakan Budi Usman penggiat konservasi yang juga direktur eksekutif Komunike Tangerang Utara.

Bagaimana tidak, sambung Budi, dari ratusan nelayan dan warga setempat dapat bergantung hidupnya untuk mencukupi kehidupan mereka setiap harinya di sana, ada yang mencari ikan serta berjualan makanan minuman hingga warung es dan kopi. 

“Keberadaan hutan Mangrove di Desa muara kabupaten Tangerang ini sungguh sangat luar biasa manfaatnya bagi warga dan para nelayan yang didominasi oleh warga sekitar, mereka ada yang dagang warung serta ada para nelayan yakni, nelayan bagan, nelayan kerang hijau, nelayan bubu, nelayan jaring, nelayan rajungan dan lainnya di sana," ungkap Budi kepada Harian Tangerang Raya, Selasa (14/6/22). 

Menurut Budi, Mangrove inilah tempat mereka (Nelayan dan Warga_red) untuk bertahan hidup dengan mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga mereka.

"Juga di harapkan peran serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan Pemerintah Pusat untuk perbaikan infrastruktur dan prasarana pendukung Eko wisata yang representatif  dan juga dukungan regulasi aturan yang akuntabel terkait manajemen wisata serta potensi pendapatan daerah," tuturnya.

Sementara itu, Tamsin salah satu warga setempat yang berprofesi sebagai nelayan Bagan mengaku tempat wisata hutan mangrove tersebut dirasakan manfaatnya baik oleh dirinya maupun warga sekitar.

"Adanya wisata hutan mangrove ini pertama saya bisa usaha di sini, kedua saya bisa membiayai pesantren dan menyekolahkan anak saya, kalau ada yang menyatakan tempat ini kurang bagus itu terbalik," terang Tamsin yang Akrab disapa Alek ini.

Alek mengungkapkan, bukan hanya dirinya yang mencari nafkah di lokasi hutan mangrove yang di kelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), banyak warga setempat juga yang menjadi nelayan dan mencari nafkah di sekitar hutan mangrove.

"Ada nelayan rajungan, nelayan kerang ijo, nelayan Bagan, nelayan jaring, nelayan bubu mereka semuanya tinggal dan mencari nafkah disini manfaatnya jelas sangat luar biasa buat masyarakat apa pun itu yang terjadi kami warga setempat akan mendukung karena hutan mangrove ini tempat kami mencari nafkah," bebernya.

Dia juga juga mengucapkan terimakasih kepada pihak pengelola dalam hal ini LMDH yang telah memberikan tempat untuk dirinya dan masyarakat yang lain nya untuk mencari nafkah di kawasan wisata hutan mangrove.

"Kami tau siapa-siapa orang yang memberikan kami tempat untuk mencari nafkah kami terimakasih ke Pak H.Yatno karena berkat upaya beliau kami bisa usaha dan bisa berjualan," terangnya.

Senada dengan Alex, Sopinah salah satu pedagang nasi dan ikan bakar juga mengaku kebaikan berkah, dengan berjualan nasi dan ikan bakar di hutan mangrove bisa menyekolahkan anaknya sampai lulus Sekolah Menengah Atas (SMA).

"Saya bersyukur disini di siapkan warung secara gratis oleh H.Yatno pengelola wisata hutan mangrove sehingga bisa menyekolahkan anak dan bisa buat makan sehari-hari jadi saya ngga bingung mencari napkah lagi walau penghasilan nya hanya pas-pasan," ungkapnya.

Ibu dari lima anak itu juga bercerita sebelum menjadi tempat wisata, lokasi mangrove tadinya lahan yang terbengkalai ,kumuh dan tidak terurus seperti hutan rimba tapi sekarang sudah jauh lebih bagus dari sebelummya.

"Tadinya mangrove ini masih bala dan rungseb, tadinya juga ke sini ngga bisa karena ngga ada jalan begitu ada mangrove banyak pengunjungnya sama H.Yatno di buatkan jalan dan Alhamdulillah sekarang mah sudah rada bagus," pungkas Sopinah dengan logat pantura. 

Seperti diketahui, wiasata hutan mangrove, Desa Muara, Kecamatan Teluknaga banyak ditumbuhi oleh pepohonan mangrove hasil tanam dan perawatan oleh LMDH setempat, lokasi hutan mangrove berdekatan dengan lokasi pembangunan PIK 2, berdekatan juga dengan Pantai Utara Jakarta. (ril/dam)