Politik Harus Menyentuh Anak Muda

Politik Harus Menyentuh Anak Muda

KOTA TANGERANG | TR.CO.ID

Sekolah Demokrasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pada akhir pekan ini, Sabtu (18/06) lalu, menyelenggarakan kursus atau pelatihan kepemiluan kepada anak-anak muda Tangerang.

Direktur Eksekutif Tangerang Leadership Management (TLM), Sanusi menjadi nara sumber pada kegiatan ini mengatakan, kursus kepemiluan yang diselenggarakan Sekolah Demokrasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai terobosan baik untuk perkembangan politik bagi anak-anak muda di Tangerang.

Menurut dia, digelarnya program kursus kepemiluan yang melibatkan anak-anak muda dan mahasiswa itu juga perlu diselenggarakan secara meluas bagi anak-anak muda lain di wilayah Tangerang.

"Program politik dan kursus kepemiluan ini harusnya tidak hanya dilakukan oleh kelangan tertentu. Namun, politisi, partai politik, lembaga swadaya masyarakat, lembaga kepemudaan lain di Tangerang juga perlu menggelar program serupa," kata Sanusi.

Dengan persentase menyentuh 60 persen, kata Sanusi, kalangan muda saat ini harus didorong, dipupuk, diajak, dan diberikan kedewasaan berpolitik dan berdemokrasi sejak awal.

"Harus dimulai sekarang. Agar partisipasi politik saat Pemilu 2024 berjalan dengan baik dan meriah penuh kesadaran berdemokrasi," bebernya.

Sanusi juga mendorong agar semua pihak sudah seharusnya ikut berpartisipasi aktif dalam kepemiluan.

"Sekolah-sekolah kepemiluan ini semoga bisa didorong lebih luas lagi," ucap dia.

Sementara itu, Kepala Sekolah Demokrasi HMI Anov Rezando menjelaskan, selama 5 seri sekolah kepemiluan digelar, sudah puluhan mahasiswa dan pemuda yang sukarela mengikuti program ini.

"Semoga masih bisa kami lanjutkan dalam seri-seri selanjutnya," Anov berharap.

Terkait pelibatan anak-anak muda, Anov menyatakan pihaknya menyadari saat ini kalangan muda bukan tidak memahami soal politik. Namun, tidak sedikit dari mereka yang mau partisipasi aktif dalam perpolitikan dan kepemiluan.

"Target kami, demokrasi ini jadi mainnya anak muda. Jadi anak muda bukan hanya jadi komoditi politik, akan tetapi sebagai pelaku politik aktif baik sebagai peserta, penyelenggara, atau pengawas proses demokrasi yang memahami betul proses pemilu," pungkas Anov. (fj/dam)