TANGERANG | TR.CO.ID
Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) menegaskan komitmennya dalam menjalankan program pendidikan gratis. Plt Kepala Dindikbud Banten, Lukman, menyatakan bahwa program ini telah dirancang dengan perhitungan anggaran yang mengacu langsung pada kebutuhan riil sekolah
“Sebelum program sekolah gratis ini dijalankan, kami minta setiap sekolah menghitung kebutuhan operasional mereka. Anggaran yang diberikan pemerintah dihitung per siswa per bulan, dan ditujukan untuk memenuhi standar minimal pelayanan pendidikan,” ujar Lukman, Rabu (25/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, Lukman menegaskan bahwa partisipasi dalam program ini bersifat sukarela. Sekolah yang merasa anggaran dari pemerintah tidak mencukupi dibandingkan biaya SPP yang biasa diterima dari orang tua, diberi opsi untuk tidak ikut.
“Tapi, bila sekolah sudah memutuskan ikut program sekolah gratis, maka tidak boleh lagi ada pungutan dalam bentuk apa pun kepada orang tua siswa. Semua kebutuhan sudah kami hitung dan ditanggung melalui anggaran daerah,” tegasnya.
Lukman menyebut anggaran tersebut mencakup belanja rutin, fasilitas belajar, sarana prasarana hingga honor guru dan tenaga kependidikan.
Sementara itu, anggota DPRD Banten dari Komisi V, Yeremia Mendrofa, menekankan bahwa pengawasan terhadap mutu pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program ini.
“Program sekolah gratis jangan sampai mengorbankan kualitas. Gratis bukan berarti murahan. Mutu pendidikan justru harus terus dijaga dan ditingkatkan,” kata Yeremia.
Ia menambahkan bahwa Komisi V DPRD terus mengawasi pelaksanaan di lapangan, termasuk memastikan standar mutu pendidikan tetap dijalankan.
“Kami juga dorong peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. SDM di sektor pendidikan harus terus diperkuat agar pembelajaran berjalan maksimal,” lanjutnya.
Selain itu, Yeremia mengingatkan pentingnya pemanfaatan teknologi disekolah secara bijak dalam proses belajar mengajar.
“Jangan sampai teknologi justru membuat anak-anak kita pasif. Gunakan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka,” tutup Yeremia. (cenks)









