LEBAK | TR.CO.ID
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Provinsi Banten, mendorong pengembangan industri hijau Lebak dan berharap dukungan pemerintah pusat, khususnya untuk pembangunan infrastruktur. Industri hijau Lebak menjadi pilihan karena daerah ini berperan sebagai kawasan penyangga ekologis bagi Jakarta dan Banten.
Selain itu, Kabupaten Lebak memiliki tutupan hutan yang luas dan masuk dalam kawasan konservasi nasional. Salah satunya, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), berada di bawah pengelolaan Kementerian Kehutanan. Kondisi ini secara langsung membatasi pengembangan wilayah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fokus Pengembangan Industri Hijau Lebak
Karena itu, Asisten III Sekretariat Daerah (Setda) Lebak, Iyan Fitriyana, menegaskan bahwa wilayah Lebak tidak cocok untuk pengembangan industri konvensional. Jika dibandingkan dengan Serang atau Cilegon, pemerintah daerah hanya dapat mengarahkan Lebak sebagai kawasan industri hijau yang mengutamakan kelestarian lingkungan.
Menurut Iyan, aspek konservasi tersebut memberi dampak nyata terhadap pembangunan daerah. Oleh sebab itu, Pemkab Lebak mendorong pemerintah pusat agar memberikan dana afirmasi, terutama untuk pembangunan infrastruktur dasar. Melalui kebijakan industri hijau Lebak, pemerintah daerah berupaya menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
“Konservasi berdampak langsung pada pembangunan daerah. Oleh sebab itu, kami berharap pemerintah pusat memberi dukungan, khususnya untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan,” ujar Iyan Fitriyana.
Iyan menyampaikan pernyataan tersebut saat menerima kunjungan peserta Kemah Budaya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di Aula Museum Multatuli, Jumat (16/1/2025).
Peran Pers Dinilai Strategis
Selain membahas pembangunan, Iyan juga mengapresiasi peran wartawan yang selama ini aktif menyuarakan persoalan masyarakat melalui pemberitaan. Menurutnya, pers memegang peran penting dalam membuka akses informasi bagi pemerintah dan publik.
Sebagai contoh, pada masa pandemi Covid-19, wartawan ikut menyebarluaskan informasi vaksinasi. Bahkan, pers turut menyoroti kondisi wilayah yang membutuhkan perhatian pemerintah.
Lebak Sambut Rangkaian HPN
Lebih lanjut, Iyan menyampaikan bahwa Bupati Lebak menyambut baik penetapan Kabupaten Lebak sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN). Dalam rangkaian kegiatan tersebut, panitia memilih Kampung Baduy sebagai destinasi wisata budaya.
Melalui agenda Kemah Budaya, Pemkab Lebak berharap para peserta memahami kearifan lokal masyarakat Baduy. Selain itu, peserta juga diharapkan mengenal cara hidup serta adat istiadat yang masih terjaga hingga kini.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap peserta Kemah Budaya memahami kearifan lokal, cara hidup, serta adat istiadat masyarakat Baduy,” katanya.
PWI Pusat Apresiasi Dukungan Pemkab Lebak
Sementara itu, Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat, Ramon Damora, menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Lebak. Ia mengucapkan terima kasih atas dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Kemah Budaya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar.
Setelah mengikuti Kemah Budaya, para wartawan dan sastrawan akan menulis karya bertema Baduy. Selanjutnya, PWI Pusat membukukan karya-karya tersebut dan meluncurkannya pada puncak acara HPN.
“PWI Pusat menjadwalkan peluncuran buku pada puncak HPN pada 9 Februari 2026. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir dalam acara tersebut,” ujar Ramon.
Pada kesempatan itu, Pemkab Lebak menyerahkan cinderamata kepada perwakilan wartawan Novi Balga dan perwakilan sastrawan Rini Intama.
Mengenal Museum Multatuli
Setelah acara penyambutan, panitia mengajak peserta Kemah Budaya berkeliling Museum Multatuli. Museum ini menggunakan nama pena Eduard Douwes Dekker, yang dikenal dengan sebutan Multatuli.
Melalui novel Max Havelaar, Multatuli mengkritik praktik kolonialisme dan ketidakadilan di Hindia Belanda. Karya tersebut turut memantik kesadaran sosial dan kebangsaan.
(eem/dam/hmi)









