KOTA TANGERANG | TR.CO.ID
Walaupun perhelatan Pilkada masih beberapa bulan lagi, tapi dinamika politik lokal sudah mulai terasa hangat. Beberapa nama yang muncul seperti Sachrudin (Ketua DPD Golkar), Aini Suci Wismansyah (Istri Arief Wismansyah) Ahmad Fuady (Ketua DPC PKB), Jamaluddin (Kadis Pendidikan) dan Gatot Wibowo (Ketua DPRD) sudah menjadi perbincangan publik Kota Tangerang.
Pengamat Politik yang juga Dosen Fisip Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Memed Chumaedy dimintai tanggapan terkait hal tersebut berpandangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kata Memed, nama-nama yang muncul tersebut memang memiliki pangsa pasar politik yang berbeda. Sachrudin memiliki modal popularitas dan elektabilitas karena pernah 2 priode menjadi Wakil Walikota Tangerang.
“Aini Suci sebagai istri walikota dan juga ketua PKK memiliki pangsa ibu-Ibu PKK yang bisa di konsolidir olehnya. Gatot wibowo sebagai ketua DPC PDI Perjuangan dan Ketua DPRD memiliki “Tiket Khusus”, karena tanpa koalisi pun sudah bisa mencalonkan diri sendiri,” ujar Memed kepada Harian Tangerang Raya, Rabu (3/1/24).
Selanjutnya, sambung Memed, Ahmad fuady, sebagai ketua DPC PKB dengan basic sebagai pengusaha travel Umroh setidaknya memiliki jaringan warga Nahdlatul Ulama dan pesantren sebagai basis pemilihnya.
“Jamaludin sebagai Kadis Pendidikan Kota Tangerang pun memiliki pangsa pasar di pendidikan, sebagai ketua PGRI sudah barang tentu sokongan dunia pendidikan kepada dirinya menjadi penguat popularitasnya,” imbuhhya.
Memed menambahkan, dua nama terakhir ini (H. Ahmad Fuady dan H. Jamaluddin) patut menjadi pertimbangan, dalam teori modalitas berdua itu ada 3 modalitas yang harus dimiliki kandidat. Pertama, modal politik sebagai anggota Fraksi PKB DPRD Provinsi Banten dan sebagai kader partai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama, PKB didominasi oleh pemilih yang berbasis santri, kyai dan pesantren.
“Kedua, modal sosial, sebagai putera daerah setidaknya jaringan keluarga dan jaringan santri yang melekat bakal menjadi kekuatan keduanya. H.Jamal mengelola guru sebagai basis modal sosial dirinya dan H.Fuady memiliki modal jaringan pesantren dan para ulama,” tuturnya.
Ketiga, lanjut Memed, modal kapital, sebagai pengusaha sudah barang tentu kapital diperlukan dalam memobilisasi logistik yang dibutuhkan dalam setiap helatan pemilihan.
“Nah tidak diragukan kapasitas modal kapitalnya yang dimiliki oleh H. Fuady dan H.Jamal,” paparnya.
“Tinggal yang perlu menjadi perhatian adalah masih minimnya dukungan Partai Politik (Parpol) jika di kombinasikan kedua ini dengan dukungan Parpol yang maksimal berdasarkan 3 teori modalitas yang ada maka kursi Walikota Tangerang bisa dapat diraih dengan mudah,” demikian Memed.
Penulis : dam
Editor : ris









