TANGERANG | TR.CO.ID
Sekretaris DPK KNPI Kecamatan Sepatan, Pungki Arih Wibowo, mempertanyakan filosofi batik khas Sepatan yang saat ini berkembang di lingkungan pemerintah, khususnya di Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang. Ia menilai batik yang beredar belum mencerminkan identitas dan sejarah khas wilayah Sepatan.
“Batik bukan hanya sekadar pakaian tradisional, tetapi harus mampu menjelaskan sejarah Sepatan,” ujar Pungki yang akrab disapa Paw, dalam keterangan tertulis, Minggu (7/12/25)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, proses pembuatan batik Sepatan tidak melibatkan tokoh-tokoh masyarakat maupun pihak yang memahami sejarah Sepatan. Pungki menilai seolah-olah batik tersebut merupakan milik perorangan karena tidak melalui proses pelibatan unsur masyarakat yang lebih luas.
“Saya menilai seolah-olah batik Sepatan hanya milik satu orang yang mencetuskan ide tersebut tanpa melibatkan semua unsur di Sepatan. Padahal batik itu adalah ciri khas identitas wilayah,” tuturnya.
Pungki menegaskan, sebelum diluncurkan dan diresmikan, batik khas Sepatan seharusnya melalui mekanisme kajian yang disepakati para tokoh setempat agar makna dan filosofi di dalamnya jelas dan tidak membingungkan masyarakat.
“Untuk itu saya meminta pihak pembuat batik agar memberikan penjelasan mengenai arti dan makna batik Sepatan yang sudah beredar. Bagaimana masyarakat bisa mengenal batik Sepatan jika tidak diinformasikan terlebih dahulu sejarah dan filosofi yang terkandung di dalamnya?” pungkasnya. (dam)









