WASHINGTON | TR.CO.ID
Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengakui telah melakukan kesalahan dengan secara tidak sengaja membagikan informasi rahasia mengenai rencana perang melawan kelompok Houthi di Yaman kepada seorang wartawan. Kesalahan ini berawal ketika Jeffrey Goldberg, pemimpin redaksi The Atlantic, tiba-tiba dimasukkan dalam grup percakapan Signal yang beranggotakan pejabat senior AS di bidang keamanan nasional.
Goldberg mengungkapkan bahwa dirinya dimasukkan ke dalam grup berjudul “Houthi PC small group” pada 13 Maret oleh Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz. Grup tersebut merupakan wadah komunikasi utama untuk koordinasi tindakan AS terhadap Houthi dalam beberapa hari mendatang. Dalam artikel yang diterbitkan oleh The Atlantic, Goldberg menyertakan tangkapan layar percakapan yang berlangsung selama beberapa minggu di dalam grup tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu pesan pertama yang ia terima berasal dari Waltz, yang berbunyi: “Tim—membentuk kelompok prinsip untuk koordinasi terkait Houthi, khususnya selama 72 jam ke depan. Wakil saya Alex Wong sedang menyusun tim harimau di tingkat deputi/Kepala Staf lembaga setelah rapat di Sit Room pagi ini untuk item tindakan dan akan mengirimkannya nanti malam.”
Dalam grup tersebut, tercatat ada 18 pejabat tinggi AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff, dan Direktur CIA John Ratcliffe. Salah satu diskusi utama dalam grup ini adalah strategi serangan militer terhadap Houthi. Hegseth dalam percakapannya mendesak agar serangan segera dilakukan tanpa penundaan, dengan tujuan memulihkan kebebasan navigasi dan membangun kembali pencegahan.
Pada 15 Maret, hari dimulainya serangan AS, Goldberg mengungkapkan bahwa Hegseth membagikan rincian operasional serangan, termasuk target, jenis senjata yang digunakan, serta urutan serangan. Sejak saat itu, militer AS terus melakukan serangan udara dan laut terhadap kelompok Houthi setiap hari. Pentagon menyatakan bahwa kampanye ini akan terus berlanjut hingga Houthi menghentikan serangan mereka di Laut Merah.
Gedung Putih telah mengonfirmasi keaslian pesan-pesan yang bocor tersebut dan menyatakan bahwa penyelidikan sedang dilakukan untuk mengetahui bagaimana Goldberg bisa ditambahkan ke dalam grup Signal tersebut. Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional, Brian Hughes, menegaskan bahwa kebocoran ini tidak mengancam keamanan nasional AS. “Rangkaian pesan tersebut merupakan demonstrasi koordinasi kebijakan yang mendalam dan bijaksana antara pejabat senior,” ujarnya.
Goldberg sendiri mengatakan bahwa ia keluar dari grup tersebut tak lama setelah serangan awal pada 15 Maret. Insiden ini memicu keprihatinan besar terkait keamanan komunikasi internal pemerintah AS, serta risiko kebocoran informasi strategis di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.









