LEBAK | TR.CO.ID
Suasana penuh kearifan lokal mewarnai acara panen padi tradisional yang digelar oleh masyarakat adat Cisitu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Tradisi yang dikenal dengan sebutan “ngetem padi” ini kembali dilaksanakan sebagai bagian dari pelestarian budaya leluhur sekaligus bentuk nyata kontribusi masyarakat adat dalam mendukung ketahanan pangan nasional.Kamis(10/April/2025)
Acara ini berlangsung meriah dan sarat makna, dengan kehadiran sejumlah pejabat penting dan tokoh adat. Di antara tamu kehormatan yang hadir adalah Komandan Kodim 0603/Lebak, Letkol Inf Herbert Rony Parulian Sinaga; Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat, STTP, M.Si.; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak, Imam Rismahayadin; serta Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lebak, Rahmat Yuniar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Turut hadir pula Pemangku Adat Kasepuhan Cisitu, Abah Yoyo Yohenda; perwakilan Kesatuan Adat Banten Kidul (SABAKI), H. Sukanta; Danyon Brimob Batalyon C Pelopor, Kompol Asep Renggana, S.H.; Wakil Pimpinan Cabang Bulog Kabupaten Lebak, Kolonel (Purn) Warnoto; serta jajaran Forkopimcam Cibeber.
Letkol Inf Herbert Rony Parulian Sinaga dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap masyarakat adat Cisitu yang masih mempertahankan cara panen padi secara tradisional. Menurutnya, selain memiliki nilai budaya yang tinggi, metode ini juga mencerminkan harmoni antara manusia dan alam.
“Panen padi ini sangat menarik karena dilaksanakan dengan cara yang masih sangat tradisional. Ini bukan hanya soal panen, tapi juga soal melestarikan warisan budaya yang sangat berharga. Kami berharap kegiatan ini terus dilestarikan, dan menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional,” ujar Dandim.
Ia juga menambahkan bahwa dimulainya panen ini merupakan tanda positif bagi pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. “Dengan dimulainya panen padi ini, kami berharap kebutuhan pangan masyarakat tetap terjaga, dan kesejahteraan akan semakin meningkat,” tambahnya.
Kegiatan panen dilakukan secara gotong royong di hamparan sawah milik masyarakat adat, dengan menggunakan alat-alat sederhana seperti ani-ani dan lesung. Ritual adat pun dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang melimpah.
Sementara itu, Pemangku Adat Kasepuhan Cisitu, Abah Yoyo Yohenda, menuturkan bahwa tradisi panen padi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi identitas masyarakat adat di wilayah selatan Banten. Ia berharap perhatian pemerintah terhadap budaya lokal terus ditingkatkan.
Acara ditutup dengan ramah tamah dan makan bersama hasil bumi yang dipanen, sebagai bentuk kebersamaan antara masyarakat adat dan pemerintah.
Dengan semangat menjaga tradisi dan memperkuat ketahanan pangan, panen padi tradisional di Cisitu menjadi bukti bahwa budaya dan pembangunan dapat berjalan seiring demi kebaikan bersama.
(JAT)









