TANGERANG | TR.CO.ID
Kondisi Taman Jajan Laksa di kawasan Cikokol, Kota Tangerang, kian memprihatinkan. Sentra kuliner khas Tangerang itu kini mengalami kerusakan di sejumlah bagian bangunan yang dinilai mengganggu kenyamanan pengunjung.
Bangunan berkonsep saung tradisional yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kuliner laksa di Kota Tangerang terlihat lapuk dimakan usia. Sejumlah atap tampak bocor bahkan berlubang, terutama di area tempat makan pengunjung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, kayu penyangga dan bilik pembatas di beberapa sudut bangunan juga terlihat rapuh. Kondisi lantai dan fasilitas penunjang lainnya dinilai sudah tidak lagi layak.
Salah seorang pedagang sekaligus pengurus paguyuban laksa, Mang UU, mengatakan para pedagang telah beberapa kali menyampaikan keluhan terkait kondisi bangunan kepada pemerintah daerah.
“Sudah disampaikan. Pemda enggak bisa bangun atau perbaiki karena lahannya milik Kemenkumham,” ujarnya saat ditemui beberapa hari lalu.
Menurutnya, para pedagang menyewa lapak sekitar Rp4 juta per tahun dengan sistem pembayaran resmi melalui transfer. Dari sebelumnya terdapat 11 lapak, kini tersisa sembilan lapak yang masih beroperasi.
“Dulu ramai, sekarang jauh menurun. Dengan kondisi seperti ini omset turun jauh,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Deni. Ia mengaku penurunan jumlah pengunjung berdampak langsung terhadap pendapatan pedagang.
“Kami sudah bertemu langsung dengan wali kota. Tapi jawabannya memang belum bisa karena ini lahan Kemenkumham,” ujarnya.
Meski kondisi bangunan dinilai kurang layak, para pedagang tetap bertahan sambil berupaya melakukan perbaikan secara bertahap.
Dalam waktu dekat, para pedagang mengaku akan mendapat bantuan perbaikan dari pihak swasta untuk memperbaiki sebagian kerusakan, terutama atap yang bocor.
“Awal bulan depan ada bantuan dari Aqua untuk perbaikan sedikit demi sedikit. Yang paling penting atap bocor bisa diperbaiki supaya pengunjung tetap nyaman saat hujan,” kata Mang UU.
Sebagai informasi, laksa merupakan makanan berkuah rempah khas budaya peranakan yang memadukan unsur Tionghoa, Melayu, dan etnis lainnya di Asia Tenggara. Di Indonesia, laksa memiliki beberapa varian, salah satunya Laksa Benteng khas Tangerang.
Kuliner tersebut telah berkembang sejak puluhan tahun lalu dan menjadi bagian dari identitas kuliner Kota Tangerang. Setelah sempat meredup pada era 1990-an, keberadaan Laksa Tangerang kembali berkembang pada awal 2000-an dengan dukungan pemerintah daerah melalui pembangunan kawasan Taman Jajan Laksa di Jalan Muhammad Yamin, Babakan, Cikokol.
Hingga kini, para pedagang masih berupaya mempertahankan eksistensi Laksa Benteng sebagai salah satu warisan kuliner khas Tangerang di tengah persaingan industri kuliner modern. (wil/dam)









