Pria dengan ARFID Hanya Bisa Makan Roti Selama 35 Tahun, Kesulitan Jalani Hidup Normal

Rabu, 14 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | TR.CO.ID

Seorang pria asal Inggris bernama Thomas Sheridan (35) hidup dengan gangguan makan langka yang dikenal sebagai Avoidant Restrictive Food Intake Disorder (ARFID), membuatnya hanya mampu mengonsumsi jenis makanan tertentu, terutama roti, sepanjang hidupnya.

Dilansir dari New York Post, Thomas selama 35 tahun hanya makan dua roti tawar setiap hari, tiga mangkuk sereal, dan sejumlah besar permen jeli. Ia tidak pernah bisa mengonsumsi buah, sayur, bahkan telur – yang disebutnya dapat memicu reaksi muntah parah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Suatu hari saya mencoba membuat roti lapis dengan telur dan sosis. Begitu telur itu menyentuh mulut saya, saya langsung muntah sejauh tiga meter ke seberang ruangan,” ungkap Thomas.

Baca Juga:  Dinkes Gencarkan Satu Rumah Satu Jumantik, Tekan Kasus DBD

Kondisi ini pertama kali terdeteksi saat ia berusia 18 bulan. Menurut orang tuanya, tiba-tiba Thomas menolak hampir semua makanan selain yang ia sukai. Berbagai pendekatan telah dicoba, mulai dari memaksanya makan hingga memberinya hadiah, tetapi tak satu pun berhasil.

Saat bersekolah, pihak sekolah mengizinkannya pulang saat jam makan siang agar bisa mengonsumsi roti panggang di rumah. Kini sebagai orang dewasa, pola makannya yang ekstrem mulai berdampak besar pada kehidupan sosial dan profesionalnya.

“Terakhir kali saya mencoba ubah pola makan dalam waktu 10 hari, berat badan saya langsung turun hampir 10 kilogram,” ujarnya.

Baca Juga:  Cegah Anemia, Remaja Putri di Kota Tangerang Dapatkan Tablet Tambah Darah Gratis

ARFID berbeda dengan anoreksia atau bulimia. Gangguan ini tidak dilandasi oleh ketakutan terhadap berat badan, tetapi lebih pada ketidaksukaan ekstrem terhadap tekstur, bau, atau rasa makanan tertentu. ARFID baru diakui secara resmi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2022 melalui klasifikasi penyakit internasional.

Meskipun tergolong langka, kasus seperti Thomas menunjukkan pentingnya pemahaman lebih lanjut tentang ARFID. Kesadaran dan intervensi dini menjadi kunci untuk membantu penderita mengembangkan pola makan yang lebih sehat dan seimbang, tanpa menimbulkan stres berlebihan.(net)

Berita Terkait

Pemkot Tangerang Gandeng LPK Wahana Danau Indah, Buka Jalan Kerja ke Jepang bagi Lulusan SMK
Pelayanan kepada Masyarakat kota Tangerang, Ambulance Gratis Dinkes Evakuasi Pasien Kritis
Waspada Hipertensi Setelah Makan Daging Kurban, Dinkes Kota Tangerang Imbau Masyarakat CKG di Puskesmas
CISADANE Resmi Diluncurkan, Layanan Pendidikan Inklusif Kota Tangerang Makin Terintegras
Dinkes Banten Ajak Semua Pihak Bersinergi Wujudkan Eliminasi TBC
Dinkes Kota Tangerang Imbau Warga Waspada Penyebaran Hanta Virus
Jalin Kerja Sama dengan BPJS Kesehatan, RSUD Benda Resmi Layani Pasien JKN-KIS
Perluas Layanan Masyarakat Rentan, Sachrudin Resmikan BPJS Kesehatan di RSUD Benda
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 15:01 WIB

Pemkot Tangerang Gandeng LPK Wahana Danau Indah, Buka Jalan Kerja ke Jepang bagi Lulusan SMK

Kamis, 4 Juni 2026 - 05:43 WIB

Pelayanan kepada Masyarakat kota Tangerang, Ambulance Gratis Dinkes Evakuasi Pasien Kritis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 02:02 WIB

Waspada Hipertensi Setelah Makan Daging Kurban, Dinkes Kota Tangerang Imbau Masyarakat CKG di Puskesmas

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:41 WIB

CISADANE Resmi Diluncurkan, Layanan Pendidikan Inklusif Kota Tangerang Makin Terintegras

Senin, 25 Mei 2026 - 14:03 WIB

Dinkes Banten Ajak Semua Pihak Bersinergi Wujudkan Eliminasi TBC

Berita Terbaru