TANGERANG | TR.CO.ID
Sorotan publik terhadap dugaan belum maksimalnya pendapatan usaha pemanfaatan air oleh Perumda Tirta Benteng Kota Tangerang mendapat tanggapan serius dari jajaran manajemen.
Direktur Umum Perumda Tirta Benteng, H. Tomy, menjelaskan secara rinci faktor-faktor yang memengaruhi perhitungan pendapatan air yang kerap disalahpahami publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Volume air yang kami ambil dari sumber seperti UPTD Pengelolaan DAS Cidurian-Cisadane (C2) memang besar. Tapi tidak semuanya bisa sampai ke pelanggan dan tercatat sebagai penjualan,” ujar Tomy di ruang kerjanya, Rabu (30/7/2025).
Ia menegaskan, dalam setiap operasional penyediaan air minum, ada faktor krusial yang disebut Non-Revenue Water (NRW) atau tingkat kehilangan air. Hal ini mencakup kebocoran jaringan, pencurian air, hingga kesalahan pencatatan meter pelanggan.
“Volume air yang diambil dari sumber tidak seluruhnya dapat didistribusikan dan tercatat sebagai penjualan kepada pelanggan. Perumda Tirta Benteng terus berupaya menekan angka kehilangan air melalui program-program efisiensi jaringan,” ungkapnya.
Tomy juga menanggapi perhitungan yang membandingkan total volume air permukaan Sungai Cisadane dengan satuan tarif rata-rata. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak akurat dan bisa menyesatkan publik.
“Perhitungan yang hanya mengalikan volume air dengan satu tarif rata-rata tanpa mempertimbangkan NRW akan menghasilkan angka yang bias dan tidak merepresentasikan kondisi keuangan Perumda Tirta Benteng yang sesungguhnya,” jelasnya.
Ia memastikan bahwa perusahaan tetap berkomitmen menjalankan operasional secara transparan dan akuntabel, serta terbuka terhadap masukan publik.
“Kami terbuka untuk berdiskusi dan memberikan data yang lebih rinci guna memberikan pemahaman yang komprehensif kepada publik,” tambah Tomy.
Terpisah, Harsono Tunggal Putra, pemerhati kebijakan publik. Menilai, penjelasan dari PDAM penting untuk menjernihkan asumsi yang keliru di tengah masyarakat.
“Publik harus memahami bahwa tidak semua air yang diambil bisa menjadi pendapatan. Ada realitas teknis yang terjadi di lapangan, dan itu tidak bisa diabaikan dalam menghitung pendapatan perusahaan,” kata Harsono.
Ia menilai sikap terbuka yang ditunjukkan oleh Perumda Tirta Benteng patut diapresiasi.
“Transparansi seperti ini perlu dibiasakan. Kalau ada data teknis yang memang memengaruhi angka-angka pendapatan, maka kritik pun harus bersandar pada realitas tersebut,” tegasnya.(cng/dam)









