JAKARTA | TR.CO.ID
Bencana ekologis akibat deforestasi terus mengancam Indonesia seiring maraknya alih fungsi hutan dan eksploitasi sumber daya alam. Greenpeace menilai banjir dan longsor di Sumatra muncul akibat rusaknya hutan, bukan semata faktor alam.
Direktur Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak menyebut banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sebagai peringatan keras bagi pemerintah. Menurutnya, kerusakan lingkungan telah meruntuhkan daya dukung alam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hampir dua bulan terakhir, bencana ekologis menyadarkan kita akan krisis lingkungan paling mematikan dalam sejarah Indonesia,” ujar Leonard dalam konferensi pers, Rabu (21/1/2026).
Deforestasi Menghilangkan Fungsi Hutan
Leonard menjelaskan, masyarakat adat selama ini mengelola hutan secara berkelanjutan. Namun, selama empat dekade terakhir, negara membuka ruang luas bagi industri ekstraktif untuk menguasai kawasan hutan.
Akibat kebijakan tersebut, industri logging, bubur kayu, pertambangan, dan perkebunan sawit merusak hutan secara masif. Kondisi ini menghilangkan fungsi hutan sebagai penyangga ekologis.
Papua Terancam Mengalami Bencana Serupa
Lebih lanjut, Leonard memperingatkan Papua berpotensi mengalami bencana serupa jika negara mempertahankan pola eksploitasi sumber daya alam. Ia menilai negara terus mengabaikan hak masyarakat adat atas wilayahnya.
Menurutnya, bencana ekologis akibat deforestasi dapat dicegah jika pemerintah mengembalikan pengelolaan hutan kepada masyarakat adat.
“Hutan adat dan masyarakat adat harus mendapat kewenangan penuh untuk menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” tegas Leonard.
Jika negara terus membiarkan perusakan hutan, maka bencana ekologis akibat deforestasi akan terus berulang dan meluas ke wilayah lain di Indonesia. (Egi)









