LEBAK | TR.CO.ID
Pembangunan Embung atau bangunan konservasi air berbentuk kolam untuk menampung air hujan dan air limpasan diyakini dapat mengurangi dan mengelola resiko banjir terpadu dan berkelanjutan dengan konsep mengelola banjir melalui pendekatan struktural dan non struktural.
Untuk itu pembuatan Embung dan drainase dalam program Flood Management in Selected River Basin (FMSRB) sangat berguna bagi wilayah yang memiliki kondisi rawan bencana, seperti Kabupaten Lebak. Untuk itu, Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri RI memberikan fasilitas dari program FMSRB guna meminimalisir terjadinya resiko banjir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami memberikan fasilitas berupa pembangunan Embung dan drainase untuk Kabupaten lebak, guna menangani dan meminimalisir resiko banjir di daerah,” kata Tenaga Ahli Monitoring dan Evaluasi Flood Management in Selected River Basin (FMSRB), Andi Amiruddin Feriwijaya, ketika mengunjungi Pendopo Lebak, Kamis (07/11/23).
Sejak tahun 2018, lanjut Andi, Kabupaten Lebak terpilih menjadi salah satu sasaran program FMSRB dengan sasaran 61 desa di 14 Kecamatan. Sehingga program FMSRB merupakan program berkelanjutan, dengan harapan membantu pemerintah daerah dalam rangka menangani banjir.
“Program ini berkelanjutan sejak tahun 2018. Sehingga komitmen kami dalam membantu pemerintah daerah dalam menangani resiko banjir dilakukan secara berjenjang,” kata Andi.
Sementara itu, Pj Bupati Lebak, Iwan Kurniawan, mengaku berterima kasih atas bantuan pembangunan Embung dan Drainase dari Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri RI yang saat ini telah dilakukan di Kabupaten Lebak. Ia menilai, program ini sangat bermanfaat bahkan sangat dibutuhkan oleh Kabupaten Lebak, mengingat Lebak merupakan salah satu wilayah dengan potensi bencana yang tinggi sehingga Iwan berharap program FMSRB ini dapat terus berlanjut.
“FMSRB ini sangat baik dan bagus untuk membantu APBD kita untuk memberikan pelayanan terbaik dalam penanganan banjir maka diharapkan program ini dapat terus berlanjut mengingat Kabupaten Lebak harus banyak diintervensi melihat topografi dan kondisi wilayah Lebak yang rawan terhadap bencana sehingga kami berharap Kabupaten Lebak dapat menjadi perhatian lebih dari kawan kawan di pusat,” kata Iwan.
Kata Iwan, Pemerintah Kabupaten Lebak telah melakukan sinergi dan kolaborasi dengan Perangkat Daerah terkait dalam pelaksanaan Program FMSRB ini diantaranya pelaksanaan kegiatan pelatihan dan pengolahan sampah melalui metode 3 R Tahun 2019 oleh Bapelitbangda
FMSRB ini juga kata Iwan, sangat baik dan bagus untuk membantu APBD kita untuk memberikan pelayanan terbaik dalam penanganan banjir maka diharapkan program ini dapat terus berlanjut mengingat Kabupaten Lebak harus banyak diintervensi melihat topografi dan kondisi wilayah Lebak yang rawan terhadap bencana sehingga kami berharap Kabupaten Lebak dapat menjadi perhatian lebih dari kawan kawan di pusat.
Lanjut Iwan, saat ini FMSRB sedang memfokuskan pembangunan 21 Embung, 112 Drainase dan Pembangunan Penguatan Lereng Terjal di 32 lokasi oleh Dinas PUPR Kabupaten Lebak, kemudian pelatihan atau simulasi tentang tanggap darurat oleh BPBD dan kegiatan konservasi bagi 152 kelompok tani oleh Dinas Pertanian Kabupaten Lebak.
Kepala Bapelitbangda Kabupaten Lebak Yosep Mohamad Holis menambahkan jika upaya penanggulangan resiko banjir dan longsor melalui program FMSRB difasilitasi Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri RI meliputi penanganan longsor pada wilayah hulu DAS, pelatihan mitigasi banjir, pengadaan sarana komunikasi dan evakuasi, pengadaan peningkatan fungsi sarana pengungsian, peningkatan fungsi drainase, pembangunan jalur dan evakuasi rambu, peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan resiko banjir dan penyusunan kebijakan daerah terkait pengelolaan wilayah sungai.
Penulis : jat
Editor : dam









