TANGERANG | TR.CO.ID
Di tengah semangat untuk mengubah lahan mati menjadi lahan produktif dan hijau, Gerakan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kota Tangerang telah menjadi sumber harapan baru bagi masyarakat setempat. Sejak pendiriannya pada tahun 2013, gerakan ini telah merambah ke 112 KWT yang tersebar di 13 Kecamatan Kota Tangerang.
Salah satu anggota KWT Anthurium, Yuyun Yuningsih Dharmawan, dari Kelurahan Nambo Jaya, Kecamatan Karawaci, menyuarakan dampak positif yang dihasilkan oleh gerakan ini. Ia membagikan bagaimana gerakan KWT mampu mengubah paradigma masyarakat terhadap bercocok tanam sayuran. Dulu, stigma bahwa sayuran hanya dapat tumbuh di dataran tinggi membuat sebagian besar warga enggan menanam sayuran di pekarangan rumah. Namun, melalui gerakan KWT ini, kesadaran akan potensi menanam sayur di pekarangan rumah tanpa harus memiliki kondisi tanah yang istimewa semakin tersebar. Sekarang, hampir 80 persen warga sudah menanam sayur secara mandiri di rumah masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Yuyun, hasil dari gerakan ini tidak hanya terlihat pada aspek pertanian saja, tapi juga dalam meningkatkan ekonomi lokal. Dengan mengkonsumsi hasil panen sendiri, masyarakat bisa menghemat pengeluaran sehari-hari. Selain itu, hasil panen dari KWT dapat dijual, menciptakan perputaran ekonomi yang berkelanjutan. “Dari satu kali panen, pendapatan bisa mencapai Rp1 juta. Kami mengambil sayuran di KWT untuk pesanan, dan jika sayuran tidak tersedia, kami arahkan ke warga lain yang sudah panen,” tambahnya.
Hal serupa juga diceritakan oleh Juandi, anggota KWT Jahe, yang mengungkapkan bahwa gerakan ini mampu mengubah lahan tandus menjadi sumber penghasilan yang signifikan. Lokasi KWT Jahe yang dulunya merupakan lahan sempit dan kurang produktif kini mampu menghasilkan omset mencapai Rp1,5 juta per bulan dari panen sayuran.
Tak hanya menjual hasil panen, anggota KWT Jahe juga mengolah hasil pertanian menjadi makanan yang dijual di Dapur KWT. Usaha ini memberikan kontribusi besar dalam peningkatan pendapatan, dengan omset mencapai sekitar Rp17 juta per bulan. “Roda perekonomian bagi anggota KWT terus berjalan, kami berharap komitmen dari Pemkot Tangerang, khususnya Dinas Ketahanan Pangan, dapat terus mendukung gerakan ini,” ungkap Juandi.
Dengan harapan agar komitmen dalam membina KWT terus berlanjut, diharapkan gerakan ini dapat terus membantu masyarakat Kota Tangerang untuk terus konsisten dalam menjalankan kegiatan pertanian dan meningkatkan kesejahteraan bersama.
Penulis : ali
Editor : ris









