SERANG | TR.CO.ID
Strategi Pembelajaran WFH Efektif
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Sekolah SMAN 1 Cikande, Mulyadi, memaparkan strategi pembelajaran efektif dalam skema Work From Home (WFH) yang mengombinasikan metode luring (tatap muka) dan daring.
Kebijakan WFH bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk guru, dipertimbangkan sebagai langkah antisipatif terhadap potensi kenaikan harga dan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat dinamika global. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang adaptif agar proses pendidikan tetap berjalan optimal.
Menurut Mulyadi, pembelajaran dalam skema WFH tidak cukup hanya membagi waktu antara luring dan daring, tetapi harus dirancang secara terstruktur dengan mengoptimalkan fungsi masing-masing metode.
“Prinsipnya, aktivitas yang membutuhkan interaksi tinggi dilakukan secara luring, sedangkan yang bisa mandiri dilakukan secara daring,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Salah satu pendekatan utama yang diterapkan adalah blended learning. Pada metode ini, pembelajaran tatap muka difokuskan untuk menjelaskan konsep sulit, diskusi mendalam, serta kegiatan praktikum atau kerja kelompok. Sementara itu, pembelajaran daring dimanfaatkan untuk penguatan materi, tugas mandiri, proyek, serta refleksi dan kuis.
Selain itu, Mulyadi juga mendorong penerapan metode flipped classroom. Dalam model ini, siswa mempelajari materi terlebih dahulu di rumah melalui video atau modul, kemudian saat pertemuan tatap muka digunakan untuk diskusi dan latihan soal.
“Keuntungannya, waktu tatap muka menjadi lebih efisien karena guru tidak perlu mengulang penjelasan dasar,” jelasnya.
Dari sisi pengaturan waktu, Mulyadi menyarankan penggunaan jadwal adaptif, seperti pola 3 hari luring dan 2 hari daring untuk mata pelajaran yang membutuhkan pemahaman konsep kuat seperti Matematika dan IPA. Sementara pola 2 hari luring dan 3 hari daring lebih cocok untuk pembelajaran berbasis proyek atau literasi.
Agar pembelajaran daring tetap efektif, ia juga menekankan pentingnya penggunaan modul pembelajaran yang ringkas dan terpadu, seperti PDF sederhana, video singkat berdurasi 5–10 menit, serta lembar kerja siswa (LKPD).
Dalam hal teknologi, Mulyadi menyarankan penggunaan platform digital yang ringan dan hemat kuota, seperti WhatsApp atau Telegram untuk komunikasi, Google Classroom untuk pengumpulan tugas, YouTube untuk materi video, serta Google Form untuk evaluasi singkat.
Ia juga menilai pendekatan Project-Based Learning sangat relevan dalam sistem campuran. Proyek dapat dikerjakan saat daring dan dipresentasikan saat luring, seperti laporan observasi lingkungan atau eksperimen sederhana di rumah.
Untuk evaluasi, Mulyadi menekankan pentingnya penilaian berkelanjutan, tidak hanya berbasis ujian. Evaluasi dapat dilakukan melalui kombinasi kuis online, penilaian proyek, observasi langsung, serta refleksi siswa.
“Fokusnya bukan hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembelajaran,” tegasnya.(Murjiman)









