PANDEGLANG | TR.CO.ID
Guna menjaga konsistensi peningkatan pelayanan dan pemerataan tugas Fasilitas Kesehatan (faskes), Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang mengadakan kegiatan monthly interim cohort analys (MICA) Tuberkulosis (TBC).
MICA dilaksanakan untuk meningkatkan pelayanan dan pemerataan tugas Faskes sebagai upaya optimalisasi pengobatan pasien TBC RO, Case Finding dan meningkatkan pemeriksaan TCM kepada terduga dan pasien SO dengan indikasi TB RO.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang Hj.Dian Handayani, SKM mengatakan, organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis Global TBC Report 2023, laporan tahunan terkait perkembangan penyakit tuberkulosis dari tahun ke tahun.
“Dalam data tersebut, Indonesia masih menduduki peringkat kedua jumlah pengidap TBC terbanyak,” katanya, kemarin.
Dikatakan, TBC adalah penyakit menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberkulosis, terbagi 2 tipe yaitu TBC sensitif obat (TBC SO) dan TBC Resisten Obat (TBC RO).
“TBC SO adalah TBC yang diobati dengan menggunakan obat lini 1 (RHZE) sedangkan TBC RO adalah atau TBC Kebal Obat disebabkan oleh jenis kuman TBC yang sama namun sudah kebal terhadap obat lini 1. Oleh karena itu penanganannya menjadi lebih sulit,” ujarnya.
Diutarakan, notifikasi kasus TBC Resisten Obat (TBC RO) masih menjadi kendala di Kabupaten Pandeglang. Hal ini dikarenakan Kabupaten Pandeglang hanya memiliki 1 Rumah Sakit Rujukan TBC Resistan Obat, yaitu RSUD Berkah
“Sehingga, penting bagi Dinas Kesehatan untuk mengetahui metode Monthly Interim Cohort Analysis (MICA), agar semua pasien TBC RO dapat diketahui status pengobatannya, ” tuturnya.
“Selain itu, bagi pasien TBC RO yang belum memulai pengobatan maupun yang mangkir dapat segera ditindaklanjuti,” tambahnya.
Diungkapkan, MICA merupakan kegiatan kohort data TBC RO bulanan berbasis kabupaten yang pelaksanaannya dipimpin oleh penanggung jawab program TBC Dinas Kesehatan kabupaten yang bertujuan untuk mendapatkan data TBC RO yang valid.
“Dengan mengetahui status pengobatan pasien yang terkonfirmasi TBC RO (belum mulai pengobatan, masih dalam pengobatan, mangkir, putus berobat, meninggal ataupun pindah/status tidak diketahui),” ujarnya.
“Dalam kegiatan MICA juga dilakukan penentuan rencana tindak lanjut bagi pasien-pasien yang tidak dalam pengobatan baik karena mangkir/putus berobat, maupun pasien-pasien yang belum memulai pengobatannya. kendala Di Kabupaten Pandeglang,” tambahnya.
Diungkapkan, ada beberapa pasien TBC RO yang menolak pengobatan karena usia sudah sepuh ini yang akan berisiko menjadi sumber penularan.
“Dari kegiatan MICA ini diikuti semua pengelola program TBC semua Puskesmas, diharapkan dapat membantu Wasor TBC untuk melakukan MICA secara mandiri dan rutin,” katanya.
“Oleh karena itu dinas harus melakukan desentralisasi pemerataan tugas di Faskes sehingga tercapai optimalisasi pengobatan pasien TB RO mencari dan menemukan Terduga maupun pasien Default dan Mangkir dari data SITB, Meningkatkan pelayanan pemeriksaan TCM di PKM (puskesmas) yang tersebar di Kabupaten Pandeglang,” sambungnya.
Maka, katanya, dengan adanya MICA ini diharapkan berjalannya pengobatan pasien TB RO akan lebih baik lagi, dukungan serta kepatuhan pengobatan juga lebih optimal. Terpenuhinya target pengobatan dengan ditemukan kasus TB RO.
“Diharapkan peningkatan Kerjasama agar tercapai Success Rate TB RO Pandeglang MICA yang berkesinambungan akan dilaksanakan secara periodic,” pungkasnya.
Penulis : ian
Editor : dam









