LEBAK | TR.CO.ID
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak mencatat adanya peningkatan volume sampah selama bulan suci Ramadan 2026. Kenaikan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 10 persen dibandingkan hari-hari biasa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak, Irvan Suyatupika, mengatakan tren peningkatan volume sampah sudah mulai terasa sejak awal Ramadan. Meski demikian, pihaknya memastikan kondisi tersebut masih dalam batas yang dapat ditangani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Secara umum ada kenaikan kurang lebih 10 persen. Ini pola yang hampir selalu terjadi setiap Ramadan,” ujar Irvan, dikutip Watawan, Rabu (4/3/26).
Menurutnya, lonjakan sampah didominasi limbah rumah tangga. Aktivitas memasak untuk sahur dan berbuka, serta meningkatnya pembelian makanan siap saji, menjadi faktor utama bertambahnya produksi sampah harian.
Jenis sampah yang paling banyak ditemukan antara lain sisa bahan makanan dan limbah dapur, kemasan plastik makanan dan minuman, serta bungkus takjil sekali pakai. Peningkatan tersebut mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat selama Ramadan, baik pada sampah organik maupun anorganik.
“Yang paling dominan itu sampah dapur dan bungkus plastik. Aktivitas warga memang lebih tinggi dibanding hari biasa,” jelasnya.
DLH memastikan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) di Kabupaten Lebak masih mencukupi untuk menampung peningkatan volume sampah. Untuk mendukung pemerataan beban, distribusi pembuangan diatur berdasarkan wilayah.
Wilayah selatan diarahkan ke TPA Cihara, sedangkan wilayah utara ke TPA Dengung. Pengaturan tersebut dilakukan agar pengelolaan sampah tetap optimal selama Ramadan.
“Kapasitas masih aman. Wilayah selatan ke Cihara, wilayah utara ke Dengung,” kata Irvan.
DLH juga mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke aliran sungai. Selain mencemari lingkungan, kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan banjir serta gangguan kesehatan.
Irvan menegaskan, Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
“Jangan sampai sampah dibuang ke sungai atau sembarang tempat. Dampaknya bisa panjang, mulai dari pencemaran hingga banjir,” tegasnya.
Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan 2026, kesadaran kolektif warga dinilai menjadi kunci agar lonjakan volume sampah tidak berkembang menjadi persoalan lingkungan yang lebih luas. (jat/dam/hmi)









