TANGERANG | TR.CO.ID

Pemerintah Kota Tangerang terus mengintensifkan upaya percepatan penurunan stunting melalui berbagai program pencegahan dan penanganan yang terintegrasi. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), prevalensi stunting di Kota Tangerang hingga Mei 2026 tercatat sebesar 5,4 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, mengatakan angka tersebut relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, pemerintah tetap menjadikan penanganan stunting sebagai salah satu prioritas pembangunan kesehatan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Angka prevalensi stunting masih berada di kisaran lima persen. Walaupun relatif stabil, anak-anak yang mengalami stunting tetap menjadi perhatian bersama dan membutuhkan penanganan berkelanjutan,” ujar dr. Dini.
Menurutnya, strategi penanganan stunting saat ini tidak hanya berfokus pada anak yang sudah mengalami stunting, tetapi lebih diarahkan pada pencegahan munculnya kasus baru. Intervensi dilakukan sejak usia remaja, calon pengantin, ibu hamil hingga balita.
“Fokus kami adalah mencegah lahirnya kasus stunting baru. Karena itu, berbagai program pencegahan terus diperkuat sejak masa remaja hingga periode tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan tren prevalensi stunting di Kota Tangerang mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Angka stunting tercatat 19,1 persen pada 2018, turun menjadi 16,4 persen pada 2019, lalu kembali menurun menjadi 15,3 persen pada 2021 dan 11,8 persen pada 2022.
Meski sempat meningkat menjadi 17,6 persen pada 2023, prevalensi stunting kembali turun signifikan menjadi 11,2 persen pada 2024. Sementara pada 2025, survei SSGI tidak dilaksanakan.
Dinas Kesehatan menegaskan, keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan. Sekitar 70 persen intervensi penurunan stunting berasal dari sektor nonkesehatan, seperti peningkatan kesejahteraan keluarga, perbaikan sanitasi, pendidikan, hingga pola pengasuhan anak.
“Penanganan stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, kader kesehatan, PKK, dunia usaha hingga masyarakat harus bergerak bersama agar anak-anak Kota Tangerang dapat tumbuh sehat, cerdas dan optimal,” kata dr. Dini.
Saat ini, berbagai program pencegahan terus diperkuat, mulai dari pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri, pemeriksaan kesehatan calon pengantin, layanan pemeriksaan kehamilan gratis, pemantauan tumbuh kembang balita melalui posyandu, hingga pemanfaatan aplikasi SIDATA yang terintegrasi dengan e-PPGBM untuk memperkuat pemantauan dan pelaporan kasus stunting secara digital.(Will)









