PANDEGLANG | TR.CO.ID
Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang mencatat sebanyak 436 warga mengalami gangguan perasaan dan depresi sepanjang tahun 2025. Memasuki Januari 2026, jumlah kasus gangguan kesehatan jiwa kembali bertambah dengan terdata sebanyak 11 orang mengalami kondisi serupa.
Penanggung Jawab Program Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Pandeglang, Pauzi Ramzih, mengatakan kelompok usia dewasa produktif menjadi yang paling banyak teridentifikasi mengalami gangguan mental.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sepanjang tahun 2025 kami merekap sebanyak 436 kasus depresi. Sementara pada Januari 2026 sudah terdata sekitar 11 orang mengalami gangguan perasaan dan depresi,” kata Pauzi, Kamis, 5 Februari 2026.
Menurutnya, kelompok usia 20 hingga 59 tahun merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan jiwa. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai tekanan hidup yang dihadapi, mulai dari tuntutan pekerjaan, kondisi ekonomi, hingga persoalan keluarga.
Kondisi ini sejalan dengan hasil penelitian Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) yang menyebut gangguan jiwa sebagai penyebab kedua terbesar hilangnya tahun produktif akibat disabilitas di berbagai kelompok usia. Jenis gangguan yang paling banyak ditemukan meliputi depresi, gangguan kecemasan, hingga skizofrenia.
Pauzi menjelaskan, gangguan kesehatan jiwa dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari masa kehamilan, tumbuh kembang anak, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia. Faktor pemicunya pun beragam, di antaranya tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, konflik keluarga, serta lingkungan sosial.
Untuk penanganan, Dinas Kesehatan Pandeglang telah menyediakan layanan kesehatan jiwa di seluruh puskesmas melalui poli khusus. Layanan tersebut mencakup skrining kesehatan mental, edukasi, konseling, pemberian obat, hingga rujukan ke rumah sakit apabila diperlukan penanganan lanjutan.
Meski layanan telah tersedia, Pauzi mengakui tingkat kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan mental masih tergolong rendah, terutama jika dibandingkan dengan wilayah perkotaan.
“Masih sedikit masyarakat yang datang langsung ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan kesehatan mentalnya. Karena itu kami melakukan edukasi dan skrining kesehatan mental di sekolah, pesantren, kampus, serta tempat kerja,” jelasnya.
Ia menegaskan, peran keluarga menjadi faktor kunci dalam proses pencegahan dan pemulihan gangguan kesehatan jiwa. Keluarga diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku anggota keluarganya.
“Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jika ada anggota keluarga yang mengalami tekanan atau perubahan perilaku, jangan didiamkan. Ajak berkomunikasi, berikan dukungan, dan bila perlu segera dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan,” pungkas Pauzi. (Hab)









