LEBAK | TR.CO.ID
Dinas pertanian Kabupaten Lebak, Banten, mengoptimalkan pemberdayaan petani untuk mendukung program swasembada pangan dan peningkatan ekonomi sehingga dapat mengendalikan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat mengatakan, pemerintah daerah bekerja keras untuk pemberdayaan petani agar dapat mewujudkan program swasembada pangan juga peningkatan ekonomi sehingga bermuara pada kesejahteraan masyarakat di daerah itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Apabila, kehidupan masyarakat itu sejahtera dipastikan mampu mengendalikan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem,” ujar Rahmat di ruang kerjanya, Baru-baru ini.
Pemberdayaan petani itu di antaranya dilakukan intervensi oleh pemerintah pusat, provinsi dan daerah dengan menyalurkan bantuan sarana produksi (saprodi) dan sarana pertanian, seperti traktor serta penunjang lainya.
Selain itu juga bantuan benih padi sawah seluas 5.000 hektare, padi gogo 4.800 hektare dan pestisida hama hampir semua di 28 kecamatan.
Disamping itu, petani akan mendapatkan pinjaman lunak dari Bank Lebak guna meningkatkan produksi usaha pertanian.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Lebak akan membangun Jalan Usaha Tani (JUT) untuk akses kemudahan dan kelancaran petani mengangkut hasil panen juga dapat meringankan biaya transportasi.
Selama ini, kata dia, prospek usaha pertanian di Kabupaten Lebak sudah menjadi andalan pendapatan ekonomi petani, sekaligus daerah lumbung pangan.
“Kita mendorong usaha pertanian itu dapat meningkatkan kesejahteraan petani sehingga kedepannya mampu memutus mata rantai kemiskinan,” ujarnya.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Tambakbaya Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak Ruhiana mengatakan selama ini intervensi pemerintah menyalurkan bantuan terhadap petani cukup besar sehingga secara langsung dapat mendorong kesejahteraan petani.
Saat ini, pihaknya memiliki 200 anggota petani dengan lahan garapan seluas 150 hektare dan indeks penanaman (IP) tiga kali tanam dalam setahun, karena terdapat sarana irigasi pompanisasi dengan menyedot air dari permukaan aliran sungai.
Mereka petani jika musim panen produktivitas rata-rata 6 ton Gabah Kering Pungut (GKP) per hektare dan ditampung pengepul Rp 6.500 per kilogram.
Jika harga GKP Rp6.500 per kilogram dikalkulasikan dengan produktivitas 6 ton maka bisa menghasilkan pendapatan ekonomi Rp39 juta per hektare.
“Pendapatan Rp39 juta itu dipotong biaya produksi Rp15 juta, sehingga petani meraup keuntungan bersih Rp24 juta selama empat bulan,” ucap Ruhiana. (EM)









